Sep 25, 2015

Utsman bin Affan, Pemimpin yang Mendapat Petunjuk


Setelah `Utsman datang meminta izin untuk hajat, Aisyah diminta untuk mengambil selimutnya, lalu Aisyah r.a berkata “Ya Rasululullah, aku melihat engkau menyambut Abu Bakar dan Umar tidak seperti sambutanmu terhadap `Utsman? Rasulullah bersabda “Sesungguhnya `Utsman adalah seorang pemalu, aku khawatir jika aku menyambutnya dalam posisi seperti itu, ia tidak jadi menungkapkan keperluannya.”

Laits berkata, `Sekelompok orang berkata, `Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda kepada Aisyah, “Tidaklah aku merasa malu kepada orang yang para malaikat pun malu terhadap dirinya?

Ia adalah `Utsman bin Affan r.a. Nama lengkapnya `Ustman bin Affan bin Abi al-`Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`addu bin `Adnan.

`Utsman diberi julukan Dzun Nurain (yang memiliki dua cahaya) karena ia menikah dengan dua putri Rasulullah Saw. Nama kunyah beliau adalah Abu Amr dan Abu Abdullah, dan ia adalah seorang yang telah berhijrah dua kali.

Ia adalah salah seorang yang dijamin masuk surga dan  kandidat anggota syura serta salah seorang dari tiga orang kandidat khalifah, yang akhirnya terpilih menjadi khalifah sesuai dengan kesepakatan kaum Muhajirin dan Anshar.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, beliau berkata, “Pada zaman Rasulullah Saw, kami tidak menyamakan Abu Bakar dengan sahabat lain kemudian Umar dan Kemudian Utsman. Setelah itu kami tidak mengistimewakan antara satu sahabat dengan sahabat yang lain.”

`Utsman bin Affan r.a adalah seorang yang rupawan, lembut, berjenggot lebat, berperawakan sedang, mempunyai tulang persendian yang besar, berbahu bidang, berambut lebat, bentuk mulutnya bagus, kulitnya berwarna sawo matang.Beliau memiliki akhlak yang mulia, sangat pemalu, dermawan dan terhormat. Mengutamakan keluarga dan kerabatnya di jalan Allah.

Rasulullah Saw bersabda“Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama Allah adalah Umar, yang paling jujur sifat malunya adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu`adz bin Jabal, yang paling hafal tentang al Qur`an adalah Ubay dan yang paling mengetahui tentang ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang kepercayaan dan orang kepercayaan umatku adalah Abu `Ubaidah bin Jarrah.”

`Ustman bin Affan r.a masuk Islam di awal melalui Abu Bakar ash Shiddiq r.a. Beliau yang pertama berhijrah ke Ethiopia bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah Saw, kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah. Ketika perang Badar terjadi, beliau tidak bisa ikut karena sibuk mengurusi istri beliau (putri Rasulullah Saw) ketika di Madinah, namun Rasulullah Saw memberikan beliau bagian dari harta rampasan perang dan pahala berperang, dengan menganggap beliau ikut berperang. Ketika istri beliau meninggal, Rasulullah Saw menikahkannya dengan adik istrinya yang bernama Ummu Kultsum yang akhirnya juga meninggal ketika masih menjadi istri beliau.

Utsman bin Affan ikut serta dalam perang Uhud, Khandaq, Perjanjian Hudaibiyah, perang Khaibar, Tabuk. Ia banyak membelanjakan hartanya untuk perlengkapan jihad di jalan Allah. Ketika Ia datang membawa 1.000 dinar dan meletakkannya di pangkuan Rasulullah Saw, Rasulullah bersabda “Tidak ada dosa bagi Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini.”

Rasulullah Saw wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan. Kemudian beliau menemani Abu Bakar dengan baik dan Abu Bakar wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan. Beliau menemani Umar bin Khaththab dengan baik, Umar wafat dalam keadaan ridha terhadap Ustman bin Affan, serta menetapkan bahwa beliau adalah salah seorang dari enam orang anggota Syura dan beliau sendiri  adalah orang yang paling istimewa di antara anggota lainnya.

`Utsman merupakan Khulafa` Rasyidin ketiga dan salah seorang pemimpin yang mendapat petunjuk. Murrah bin Ka`ab ia berkata “Aku mendengar Rasulullah Saw menyebut berbagai fitnah, lalu menggambarkan bahwa fitnah-fitnah tersebut begitu dekat masanya. Kemudian seseorang dengan wajah tertutup kain lewat. Rasulullah Saw bersabda tentang orang ini, “Saat fitnah itu terjadi, orang ini berada di atas petunjuk.” Murrah bin Ka`ab melanjutkan, “Lantas aku berdiri dan berjalan menuju ke arah orang itu. Rupanya dia adalah `Utsman.”

Dari Aisyah r.a, ia berkata bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Wahai `Utsman, jika suatu hari nanti Allah Swt mengaruniakanmu perkara ini (jabatan khalifah), kemudian orang-orang munafik ingin melepaskan baju (kekhalifah) yang Allah Swt telah pakaikan kepadamu, maka janganlah engkau lepaskan baju itu.

`Ustman bin Affan menjadi khalifah setelah Umar bin Khaththab. Pemerintahannya berlangsung sekitar 12 tahun kurang 12 hari (11 tahun 11 bulan dan 17 hari). Ia dibai`at pada awal bulan Muharram 24 H dan terbunuh pada tanggal 18 Dzuhijjah 35 H. Iamelakukan perluasan Masjid Nabawi, membentuk armada laut pertama dan melakukan kodifikasi al Qur`an untuk kedua kalinya.

Terjadi perluasan wilayah yang pesat dan terbesar pada masanya dariKhulafaur Rasyidin. Muawiyyah r.a menyerang Siprus atas izin `Utsman, ketika dulu `Umar r.a melarang ekspedisi militer melalui laut. Hingga terjadi pembebasan wilayah-wilayah Timur dan Afrika seperti Azerbaijan, Armenia, Kabul, Sijistan, dan banyak lagi lainnya. Pada masa kekhalifahannya pula terjadi perang besar Dzatush Shawari dengan pasukan Romawi. Dan kesejahteraan menaungi umat Islam pada masa itu karena aktivitas jihad terjadi besar-besaran, Hasan al Basri berkata “Hampir setiap hari orang-orang ketika itu berbagi harta benda. Sampai-sampai ada yang memanggil-manggil, `Kesinilah, wahai para hamba Allah, ambil madu bagianmu! Ke sinilah wahai para hamba Allah! Ambil harta benda bagianmu.”

Pada tahun 34 H mulai muncul fitnah dari orang bodoh, dungu dan musuh-musuh Islam, yang berusaha memberontak kepada khalifah `Utsman. Ia kemudian menangkap mereka dan mencela perbuatan mereka, kemudian melepaskannya. Namun bukan menyesali, justru selanjutnya mereka melakukan persiapan yang lebih besar untuk melakukan pemberontakan kedua kalinya pada tahun 35 H. Khususnya yang diakui menjadi provokator utama, memotori berbagai konspirasi dan fitnah tersebut, yaitu `Abdullah bin Saba`, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Ia banyak mempengaruhi dan memanfaatkan orang Badui untuk menyebarkan kebohongan-kebohongan kepada mereka dengan mengatakan bahwa Utsman melakukan begini dan begitu. Ia dan para pengikutnya (as-Sabaiyyah) kemudian membuat surat-surat palsu yang mengatas namakan az Zubair, `Ali, Thalhah, `Aisyah dan sahabat-sahabat yang lain, dan memberikan cap stempel palsu, yang semua isinya tentang pengingkaran atas `Utsman dan mencela kebijakan pemerintahannya, sehingga banyak kemudian yang ikut tersulut.

Usia `Utsman mencapai lebih dari 80 tahun. Shalih bin Kaisan berkata, “Beliau wafat pada usia 80 tahun beberapa bulan”. Adapula yang berkata “84 tahun”. Qatadah berkata “Beliau meninggal pada usia 88 tahun, atau 90 tahun.”

Ia meninggal dalam keadaan syahid, setelah terjadi pengepungan selama lebih dari sebulan atau ada yang mengatakan 40 hari, hingga `Utsman selama itu dilarang melakukan segala sesuatu dan tidak dapat mengerjakan shalat di Masjid.

Pada hari sebelum terbunuhnya `Utsman, ketika itu `Utsman meminta agar semua orang yang ada di dalam rumah beliau, yang bermaksud melakukan pembelaan untuk beliau kembali ke rumah masing-masing, maka mereka pun pergi, dan `Utsman menyerahkan semua urusannya kepada Allah, dan meminta agar mereka menyarungkan pedangnya. Disaat tidak ada lagi orang yang bersama beliau kecuali keluarganya, para pemberontak masuk ke dalam rumah melalui pintu gerbang dan meloncati tembok, sementara itu `Utsman sedang mengerjakan shalat dan membaca al Qur`an pada ayat (QS. Al Imran:173), hingga akhirnya terbunuh.

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan `Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka`, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab `Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imran: 173).

Abu Ja`far ar Razi berkata “Dari Ayyub Sikhtiani, dari Nafi`, dari Ibnu Umar bahwa `Utsman berbicara dihadapan khalayak, `Aku melihat Nabi Saw di dalam mimpi, beliau bersabda “Ya Ustman berbukalah bersama kami”. Maka pada pagi harinya beliau berpuasa lalu terbunuh pada har itu juga. Dalam riwayat lain dari Saif bin Umar, ketika ia diminta keluar dan duduk di beranda depan sehingga masyarakat dapat melihat dan membela beliau, `Ustman tertawa lalu berkata “Wahai Katsir, semalam aku bermimpi seakan-akan aku bertemu dengan Nabi Saw dan di samping beliau ada Abu Bakar dan Umar, lalu beliau bersabda “Kembalilah karena besok engkau akan berbuka bersama kami”. Kemudian `Utsman berkata “Demi Allah, tidaklah matahari terbenam esok kecuali aku sudah menjadi penghuni akhirat.”

`Utsman bin Affan akhirnya syahid ditangan para pemberontak. Ketika Rasulullah Saw mendaki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Ustman, lantas gunung tersebut bergetar, maka Rasullullah Saw ber sabda “Tenanglah Uhud! Tidak ada siapa-siapa di atasmu melainkan hanya seorang Nabi, seorang ash Shiddiq (Abu Bakar) dan dua orang syahid (Umar dan Utsman)”.

Masa kekhalifahan `Utsman merupakan masa keemasan Khulafa Rasyidin, walaupun ada distortasi sejarah yang disebarkan para pendusta, dan tuduhan-tuduhan sesat yang dialamatkan ke pemerintahannya, bahwa ia melakukan nepotisme, menzalimi para sahabat, lari dari peperangan dan lainnya, serta melupakan sumbangsih besarnya. Padahal ketika zamannya wilayah kekuasaan Islam meluas paling pesat, serta kesejahteraan dan keamanan tercapai.

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Abdullah bin Umar.”Wahai Ibnu Umar, aku ingin bertanya sesuatu kepada anda, maka tolong dijawab! Apakah anda tahu bahwa Utsman lari meninggalkan pasukan pada perang Uhud?” Ibnu Umar menjawab “Benar”. Ia kembali bertanya “Apakah anda tahu bahwa ia tidak ikut dalam perang Badar?” Ibnu Umar menjawab “Benar”. Ia kembali bertanya “Apakah anda tahu bahwa ia tidak ikut pada Bai`at ar Ridhwan?” Ibnu Umar menjawab “Benar”. Lelaki itu berkata “Allahu Akbar”. Ibnu Umar berkata, “Kemarilah aku akan jelaskan kepadamu tentang permasalahan tersebut. Adapun mengenai larinya beliau dari perang Uhud, sesungguhnya ia telah mendapat ampunan dari Allah. Kemudian tentang beliau tidak dapat ikut serta dalam perang Badar karena ia sedang disibukkan mengurus istri beliau, yakni putri Rasulullah Saw yang sedang sakit dan Rasulullah Saw bersabda kepadanya,“Sesungguhnya engkau mendapatkan pahala seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan engkau juga mendapatkan bagian harta rampasan perang”.

Adapun ketidak ikut sertaan beliau pada Ba`iat ar Ridhwan, kalaulah sekiranya ada seorang yang lebih terhormat di Kota Mekkah selain Utsman, tentunya Rasulullah Saw akan menggantikan Utsman dengan orang tersebut. Namun Rasulullah Saw tetap mengirimkan Utsman ke Makkah dan Bai`at ar Ridhwan terjadi setelah kepergian Utsman ke Makkah, lalu Rasulullah mengisyaratkan dengan tangan kanannya seraya bersabda “Ini adalah tangan Ustman”. Lantas menepukkannya dengan tangan beliau dan bersabda “Ini adalah bai`at untuk Utsman”. Ibnu Umar berkata kepada lelaki itu “Nah, bawalah penjelasan ini, karena sekarang engkau sudah tahu.”

Fatimah binti Abdurrahman telah mengatakan kepadaku bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah dengan mengutus pamannya, “Salah seorang anakmu mengirimkan salam untukmu dan bertanya tentang Ustman yang sedang dicela oleh banyak orang.” Beliau menjawab “Semoga Allah melaknat orang yang melaknat Ustman”. Demi Allah, waktu itu ia sedang duduk di sisi Rasulullah Saw, dan Rasulullah sedang menyandarkan punggungnya kepadaku, dan Jibril sedang menyampaikan wahyu al Qur`an. Beliau berkata “Tulislah wahyu tersebut ya Utsaim (Utsman).” Aisyah berkata, “Tidaklah Allah menempatkan seseorang pada kedudukan seperti itu melainkan orang tersebut telah bersikap mulia terhadap Allah dan RasulNya.”
Imam Ahmad berkata, Bahz telah mengatakan kepada kami, Abu Awanah telah mengatakan kepada kami, Hushain telah mengatakan kepada kami, dari Umar bin Jawaan, dia berkata, `Berkata al Ahnaf “Kami pergi untuk menunaikan ibadah Haji dan melewati Kota Madinah. Di saat kami berada di tempat penginapan kami, datanglah seseorang berkata, `Orang-orang berkerumun di Masjid`. Maka aku dan temanku pergi ke Masjid. Ternyata di sana orang-orang sedang mengerumuni seseorang. Maka aku berusaha untuk menerobos kerumunan tersebut dan ternyata mereka adalah `Ali, Thalhah, az Zubair dan Sa`ad bin Abi Waqqash.

Tak lama kemudian datanglah `Utsman bin Affan dan bertanya, “Apakah di sana ada Ali bin Abi Thalib?” Mereka menjawab, “Ada”. Beliau bertanya lagi “Apakah di sana ada az Zubair?” Mereka menjawab “Ada”. Bertanya lagi “Apakah di sana ada Thalhah?” Mereka menjawab, “Ada”. Bertanya lagi “Apakah di sana  ada Sa`ad bin Abi Waqqash?” Mereka menjawab, “Ada”.

Kemudian ia berkata, `Demi Allah, yang tidak ada illah yang berhak di sembah kecuali Dia, aku bertanya kepad kalian, tahukah kalian bahwa Rasulullah Saw bersabda “Barangsiapa membeli tempat-tempat unta Bani Fulan, maka Allah akan mengampuninya”.  Maka aku membelinya dan aku menghadap kepada Rasulullah Saw, lalu kukatakan bahwa aku telah membelinya. Beliau bersabda, “Letakkan tambatan tersebut di Masjid kita, maka pahalanya untukmu.” Mereka menjawab “Benar”.

Ia berkata, `Demi Allah, yang tidak ada illah yang berhak di sembah kecuali Dia, aku bertanya kepad kalian, tahukah kalian bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Siapa mau membeli sumur Romah?” Maka aku beli sumur tersebut dengan harga sekian, lalu aku menghadap Rasulullah Saw dan aku katakan, “Aku telah membeli sumur itu”. Beliau bersabda, “Jadikanlah sumur tersebut sebagai tempat kaum Muslimin mengambil air minum, maka pahalanya untukmu.” Mereka menjawab, “Benar.”

Ia berkata, `Demi Allah, yang tidak ada illah yang berhak di sembah kecuali Dia, aku bertanya kepad kalian, tahukah kalian bahwa Rasulullah Saw melihat wajah orang-orang pada hari Jaisyul `Usrah (Pasukanyang disiapkan untuk perang Tabuk) dan bersabda, “Barangsiapa mempersiapkan bekal (dan peralatan) mereka, maka Allah akan mengampuni dosanya.” Maka aku yang membekali mereka hingga tiada satu tali kekang dan tali pengikat pun yang tertinggal.” Mereka menjawab, “Benar”.
`Utsman berkata “Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!” Kemudian beliau pergi. (Galih)

4 Oktober 2014

Sumber dirangkum dari:

Al Hafizh Ibnu Katsir, Tartib wa Tahdzib Kitab Al Bidayah Wan Nihayah. Terj. Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul Yang Agung (Jakarta:Darul Haq, 2002)
Dr. `Ustman bin Muhammad al-Khamis, Hiqbah Minat Taariikh. Terj. Inilah Faktanya (Jakarta:Pustaka Imam Syafi`i, 2012)

Sep 23, 2015

Umar bin Khaththab, Pemimpin Orang Beriman


“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di atas lidah umar dan di atas hatinya, dialah al Faruq”

Nama lengkapnya adalah `Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr. Julukannya adalah al Faruq.

Ia adalah seorang lelaki yang tinggi, kepala bagian depannya botak, mampu bekerja dengan dua tangannya (secara) seimbang, kedua matanya hitam, berkulit kuning, ada yang mengatakan berkulit putih hingga menjadi kemerah-merahan. Giginya putih bersih mengkilat, selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan menggunakan inai (daun pacar).

`Umar r.a adalah seorang yang sangat tawadhu` kepada Allah. Kehidupan dan makanannya sangat sederhana. Beliau terkenal sangat tegas dalam urusan agama Allah, selalu menambal bajunya dengan kulit, membawa ember di atas kedua pundaknya, tapi bersama itu semua, beliau memiliki wibawa yang sangat besar, selalu mengendarai keledai tanpa pelana, jarang tertawa dan tidak pernah bergurau dengan siapa pun. Cincinnya bertuliskan sebuah peringatan, “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu Umar”.

Umar masuk Islam ketika berusia dua puluh tujuh tahun. Beliau mengikuti perang Badar dan seluruh peperangan yang terjadi setelahnya bersama Rasulullah Saw. Beliau juga pernah diutus untuk berangkat bersama sebagai tentara untuk memata-matai dan mencari informasi tentang musuh, dan terkadang menjadi pemimpin dalam tugas ini.

Umar adalah seorang yang selalu bersungguh  dalam ketaatan.  Rasulullah bersabda “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar”. Abu Sa`id al Khudri meriwayatkan, Rasulullah Saw juga bersabda “Ketika tidur aku melihat dalam mimpi, seluruh manusia diperlihatkan padaku masing-masing mereka mengenakan baju-baju, ada yang mengenakan baju hingga ke dadanya, ada yang mengenakannya di bawah dada, maka diperlihatkan padaku Umar sedang mengenakan pakaian panjang yang diseret-seretnya. Mereka bertanya, `Dengan apa anda menakwilkannya wahai Rasulullah?` Rasulullah menjawab, `Agamanya`.”

Ia adalah seorang yang sangat disegani dan memiliki kewibawaan tinggi, bagi kawan maupun lawannya. Rasulullah bersabda “Wahai Ibnul Khaththab, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah syaitan berjalan di suatu jalan kemudian bertemu denganmu, melainkan dia akan beralih ke jalan lain yang bukan jalanmu.”

Ibnu Mas`ud menyatakan “Kami senantiasa kuat semenjak `Umar al Khaththab masuk Islam”. `Umar memeluk Islam pada tahun keenam sejak diutusnya Rasulullah Saw, setelah empat puluh laki-laki dan sebelas perempuan terlebih dahulu memeluk Islam.

Umar adalah pemimpin Islam kedua setelah Abu Bakar ash Shiddiq, ia adalah seorang yang pertama kali digelari Amirul Mukminin, sangat mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. Pada masa pemerintahannya yang berlangsung 10 tahun 5 bulan 21 malam. Abu Ma`syar berkata masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari. Ibnu Jarir berkata masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan dan 4 hari. Telah membawa perkembangan pesat pada sistem dan kekuasaan Islam. Ia merupakan seorang pemimpin yang sangat tegas dan perhatian. Umar  selalu mengawasi para gubernurnya dengan sangat ketat. Selalu bertanya dan mencari kabar tentang mereka kepada orang-orang. `Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan.  Ia sendiri berpatroli pada malam hari dengan memerhatikan keamanan Madinah, ia juga mensyaratkan dirinya “Tidak halal bagiku dari harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin.”

Ia selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya –sementara beliau adalah khalifah-, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk menegur orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati atau lainnya yang bermanfaat, maka ia akan memunggutnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.

`Umar pernah membawa tempat air dia atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun ia berkata, “Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya.” Pada waktu paceklik dan kelaparan, beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, ia berkata, “Akulah sejelek-jelak penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

Suatu malam ketika ia sedang keluar, ia menemukan musafir yang kemalaman dan mendatanginya, ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis. `Umar bertanya dan wanita tadi menjawab bahwa ia kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan. Lalu `Umar bertanya mengapa anak itu menangis, ia menjawab “karena lapar”dan ia memasak air agar ia dapat menenangkan mereka hingga tertidur, dan berkata “Dan kelak Allah yang akan menjadi hakim antara kami dengan `Umar”.

Maka `Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia mengeluarkan sekarung gandum dengan minyak samin, sambil berkata kepada Aslam “Wahai Aslam, naikkan karung ini ke atas pundakku”. Aslam berkata “Biar aku saja yang membawanya untukmu”. `Umar menjawab, “Apakah engkau bisa memikul dosaku kelak di hari kiamat?” Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi wanita itu. Lalu `Umar membantu memasakkan dan memberikannya kepada anak-anaknya. `Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas dan memberikan kepada mereka nafkah.

Utusan Kisra (kaisar Persia) berkata ketika datang ke Madinah dan melihat `Umar tidur di bawah pohon, padahal dia adalah Amirul Mukminin “Engkau memimpin dengan adil sehingga merasa aman dan bisa tidur dengan tenang”.

`Umar adalah yang pertama kali membuat penanggalan hijriyah, mengumpulkan manusia untuk Shalat Tarawih berjama`ah, berkeliling di malam hari mengontrol rakyatnya di Madinah, membawa tongkat pemukul untuk memberi pelajaran dan menghukum yang salah, yang pertama mendera peminum khamar 80 kali cambukan, melakukan banyak penaklukan, yang pertama membuat kota-kota, membentuk tentara resmi, membuat undang-undang perpajakan, membuat sekertariat, menentukan gaji tetap, menempatkan para hakim, membagi-bagi wilayah yang ditaklukkan seperti as-Sawad, Ahwaz, wilayah pegunungan, wilayah Persia dan lain sebagainya.

Pada masanya beliau berhasil menaklukkan banyak wilayah di negeri Syam, diantaranya; Damaskus, Yordania, Baisan, Thabariyah, al-Jabiyah, Ramalah, Asqalan, Gazza, daerah pesisir. Al Quds, Ba`labak, Himsh, Qinsirin, Halab, dan Anthakiyah. Menaklukkan Mesir, Iskandariyah (Alexandria), Tripoli Barat dan Burqah. Daerah Jazirah Eufrat yang ditaklukkan adalah, Harran, ar-Raha dan ar-Raqqah, Nusaibin, Ra`s al-`Ain, Syimsyath, `Ain Wardah, perkampungan Bakr, perkampungan Rabi`ah, negeri Mosul dan wilayah-wilayah sekitarnya. Wilayah Irak dan wilayah timur yang ditaklukkannya, Qadisiyyah, Sungai Sair, Sabath, al-Mada`in, Kisra, Eufrat, Tigris, Bashrah, Ahwaz, Persia, Nahawand, Hamadzan, ar-Rai, Qumis, Khurasan, Istakhar, Ashbahan, as-Sus, Marwu, Naisaburi, Jurjan, Azerbaijan dan lain-lain. Para tentaranya telah pula menyeberangi sungai Jaihun berulang kali.

Dua kekuatan adidaya ketika itu, yaitu Persia dan Romawi takluk dalam kekuasaan Umat Islam, banyak umat lain yang masuk Islam dan mendapatkan kesejahteraan dalam naungannya, banyak kemajuan dan peningkatan hidup yang didapatkan. Meski demikian `Umar adalah seorang yang selalu sederhana dan lebih memperhatikan rakyatnya, Mu`awiyah bin Abi Sufyan pernah berkata “Abu Bakar tidak sedikitpun menginginkan dunia dan juga dunia juga tidak ingin datang menghampirinya. Sedangkan `Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, sedangkan kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.”

`Umar pernah dicela dan dikatakan kepadanya, “Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi, tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran”. Maka `Umar berkata, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kedua sahabatku (Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak dapat mengejar kedudukan mereka.”

`Umar bin al Khaththab terbunuh di tangan seorang Majusi bernama Abu Lu`lu-ah. Ia menikamkan sebilah pisau beracun sebanyak dua kali ke tubuh `Umar ketika mengimami shalat shubuh hari Rabu 25 Dzulhijjah 23 H. Ketika mengetahui siapa pembuhnya, `Umar berseru “Segala puji bagi Allah Swt yang tidak menjadikan pembunuhku seorang Muslim. Karena jika dia Muslim, tentu dia dapat mendebatku kelak di hadapan Allah dengan satu sujud yang pernah dilakukannya.” Diriwayatkan dari Amir asy Sya`bi dia berpendapat ketika `Umar wafat ia berusia 63 tahun, dan inilah pendapat yang masyhur.

Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah berkata dia berkata, “Ketika Umar ditikam, beliau mengerang kesakitan, maka Abdullah bin Abbas berkata sambil menghiburnya, `Wahai Amirul Mukminin, bukankah engkau sahabat Rasulullah Saw yang selalu mengiringinya, dan engkau telah berbuat baik dalam persahabatan dengan beliau. Kemudian engkau berpisah dengannya dalam keadaan beliau rela terhadapmu. Setelah itu engkau menjadi sahabat Abu Bakar hingga engkau berpisah dengan beliau dalam keadaan beliau rela terhadapmu. Kemudian engkau bergaul dengan sahabat-sahabat mereka dengan baik, maka jika engkau meninggalkan mereka, mereka akan rela terhadapmu`. Umar berkata, `Adapun apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Rasulullah dan ridha beliau terhadap diriku, itu merupakan karunia Allah terhadapku, dan apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Abu Bakar ash Shiddiq dan keridhaannya terhadapku, itu pun merupakan karunia Allah -Yang Maha Mulia- terhadapku. Sementara yang engkau lihat tentang kekhawatiranku, itu seluruhnya disebabkan tanggung jawabku terhadapmu dan para sahabatmu. Demi Allah, andai saja aku memiliki emas sepenuh dunia, pasti akan aku tebus diriku dengannya dari azab Allah Swt sebelum aku melihat azab itu datang`.”

`Umar wafat tiga hari setelah itu, beliau dikebumikan pada Ahad di awal Muharram 24 H. Ketika Umar bin Khaththab wafat dan jenazahnya dibaringkan di atas tempat tidurnya. Ali bin Abu Thalib r.a mendoakannya, semoga Allah Swt merahmatinya, lalu berkata “Sungguh, aku sangat berharap berjumpa Allah dengan membawa amal-amal seperti engkau. Demi Allah, aku yakin Allah Swt menjadikan engkau bersama kedua teman engkau; bahkan aku sering sekali mendengar Nabi Saw bersabda “Aku pergi bersama Abu Bakar dan `Umar. Aku masuk bersama Abu Bakar dan `Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan `Umar.

Sebelum wafat ia telah berwasiat agar penggantinya yang menjadi khalifah dimusyawarhkan oleh enam orang yang Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, yaitu Ustman r.a , Ali r.a , Thalhah r.a, az Zubair r.a, Abdurrahman bin `Auf r.a, Sa`ad bin Abi Waqqash r.a.

`Umar adalah salah seorang yang telah dijamin masuk surga, orang terbaik kedua setelah Abu Bakar ash Shiddiq r.a. Abu Hurairah r.a bertutur “Ketika kami berada di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau berkata “Sewaktu tidur, aku bermimpi seolah-olah aku berada di Surga. Kemudian seorang wanita berwudhu di samping sebuah istana, maka aku bertanya `Milik siapa istana ini?` Malaikat menjawab, `Milik Umar al Khaththab. Maka aku teringat akan kecemburuan `Umar, segera aku menjauhi istana itu. Maka `Umar menangis dan berkata `Apakah (pantas) aku cemburu padamu wahai Rasulullah?`”.(Galih)

Galih, 2 Juli 2014
Daftar Pustaka:
Al Hafizh Ibnu Katsir, Tartib wa Tahdzib Kitab Al Bidayah Wan Nihayah. Terj. Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul Yang Agung (Jakarta:Darul Haq, 2002)
Dr. `Ustman bin Muhammad al-Khamis, Hiqbah Minat Taariikh. Terj. Inilah Faktanya (Jakarta:Pustaka Imam Syafi`i, 2012)

Abu Bakar Ash Shiddiq, Penghulu Para Sahabat


“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya `Janganlah berduka cita, sesunggunya Allah bersama kita.” (QS. At Taubah: 40)

Aisyah, Abu Sa`id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan “Abu Bakarlah yang menyertai Nabi Saw dalam gua tersebut.”

Abu Bakar ash Shiddiq r.a adalah seorang yang paling utama dan penghulu dari sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Ia seorang lelaki yang pertama kali membenarkan tentang kabar kenabian Rasulullah Saw dengan masuk Islam, dan Isra Mi`rajnya Rasulullah Saw, serta menemaninya Saw dalam hijrah ke Yastrib.

Ali bin Abu Thalib r.a menyatakan “Allah Swt menurunkan nama untuk Abu Bakar dari langit, yaitu ash Shiddiq”.

Dari tangannya lah kemudian banyak dari para senior sahabat masuk Islam seperti Ustman bin Affan, az-Zubair bin al Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa`ad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah, serta dari kalangan budak yaitu Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy, Zinnirah,Nahdiyyah, kedua putrinya dan seorang budak wanita milik  Bani Mu`ammal.

Nama sebenarnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amir bin Ka`ab bin Sa`ad bin Tamim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al Qurasy at-Tamimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi Saw pada kakeknya, murrah bin Ka`ab bin Lu`ai (11-13 H).

Ia adalah seorang berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya (sehingga kainnya selalu melorot dari pinggangnya), wajahnya selalu berkeringat, hitam matanya, berkening besar, memiliki urat tangan yang tampak menonjol, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai daun pacar (hinai) maupun daun pohon al-Katm, sebagaimana diungkap Aisyah ra.

Karakter akhlaknya adalah penuh dengan kebaikan, keberanian, kelembutan, murah hati, penyabar, paling mengerti, faqih, zuhud, sangat bertawakal dan yakin dengan segala janji-Nya.

Ia adalah seorang sahabat yang telah dijamin dan diberikan jalan masuk dari berbagai pintu surga. Dan beliau adalah seorang yang paling dicintai Rasulullah Saw dari kalangan sahabat laki-laki, hingga Rasulullah berkata “Andaikan saja aku dibolehkan mengambil khalil (kekasih dekat) selain Allah, pasti aku akan memilih Abu Bakar sebagai khalil, namun dia adalah saudaraku dan sahabatku.”

Demikian juga yang diakui oleh sahabat lainnya. Ibnu Umar r.a berkata, “Kami biasa (berbincang) menyatakan siapa yang paling utama diantara para sahabat di masa Rasulullah Saw, maka kami sepakat memilih Abu Bakar yang paling utama, kemudian Umar r.a, selanjutnya Ustman bin Affan r.a. Dari Muhammad bin al Hanafiyyah beliau juga berkata, “Kutanyakan kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib r.a) siapa yang paling baik setelah Rasulullah Saw?” Beliau menjawab, “Abu Bakar!” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab “Umar”. Dan aku takut jika beliau menyebut Ustman sesudahnya maka kukatakan, “Setelah itu pasti Anda”. Namun beliau menjawab,”Aku hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin”.

Pernah suatu ketika Utbah bin Mu`ith mendatangi Nabi Saw yang sedang sholat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepaskan ikatan tersebut sambil berkata,

“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, `Rabbku ialah Allah` padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.”(QS. Al Mu`min: 28)

Ia juga selalu turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah Saw seperti pada perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, penaklukan kota Makkah, Tabuk dan pertempuran besar lainnya.

Pada hari kamis, lima hari menjelang wafat, Rasulullah Saw menyampaikan pidato yang agung yang menerangkan keutamaan Abu Bakar ash Shiddiq dibandingkan seluruh sahabat lainnya, ditambah instruksi Nabi Saw di hadapan seluruh sahabat agar Abu Bakar ditunjuk menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat. Mungkin khutbah ini merupakan pengganti dan keinginan beliau Saw untuk berwasiat siapa yang menjadi penggantinya. Maka ketika Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar dibai`at oleh kaum Muslimin baik dari kalangan Muhajirin dan Ansor untuk menjadi Khalifah (pengganti) Rasulullah Saw di Saqifah Bani Sa`idah.

Pada masanya kepemimpinannya ia melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah r.a ke Syam, sebagaimana yang telah dipersiapkan Rasulullah Saw sebelum wafat. Al Qur`an juga dikumpulkan dan dibukukan atas instruksi Umar r.a karena melihat banyaknya penghafal Al Qur`an gugur dalam perang Yamamah dan selanjunya meminta Zaid bin Tsabit r.a untuk menuliskannya.

Beberapa lama setelah Rasulullah Saw wafat dan digantikan oleh Khalifah Abu Bakar ash Siddiq, terdengar banyak kabar kemurtadan dari berbagai tempat di Yaman, Bahrain, Oman seperti mayoritas Bani Hanifah di Yamamah yang bergabung dengan Musailamah Kadzdzab, Bani Asad, Ghathafan maupun Thayyi` bergabung dengan Thulaihah al-Asadi yang mengaku nabi baru, sebagaimana Musailamah al Kadzdzab. Suku Kindah dan sekutunya dibawah pimpinan al Asy`ats bin Qais al Kindi. Kemudian diikuti oleh suku Mudzhij dan sekutunya dibawah pimpinan al Aswad bin Ka`ab al Ansi yang seorang dukun. suku Rabi`ah di bawah pimpinan al Ma`rur bin Nu`man bin al Mundzir.

Demikian pula terjadi segolongan yang enggan membayar zakat. Hal ini menjadi perbincangan diantara sahabat, ada yang mensarankan agar membiarkan dan tidak memeranginya dahulu, melainkan mengambil hati mereka sampai keimanannya kokoh. Namun Abu Bakar dengan tegas menolak “Demi Allah, andai saja mereka enggan untuk menyerahkan seekor kambing betina –dan dalam satu riwayat- “seutas tali” – yang sebelumnya mereka serahkan kepada Rasulullah Saw pastilah akan kuperangi mereka semua karenanya. Sesungguhnya zakat itu adalah hak harta. Dan demi Allah, aku pasti akan memerangi orang yang membedakan antara kewajiban shalat dan zakat!”.

Abu Bakar adalah seorang terdepan dengan keyakinannya terhadap pertolongan dan janji Allah, dalam pandangannya seorang yang lemah menjadi kuat dan seorang yang kuat menjadi lemah, tegas dan konsisten dalam kebenaran.

Aisyah r.a menuturkan “Ketika Rasulullah Saw wafat muncullah kemunafikan di berbagai wilayah, sebagian orang Arab murtad, serta orang-orang Yahudi dan Nasrani mengangkat pemimpin mereka. Kaum Muslimin ketika itu laksana kambing yang kehujanan di malam hari pada musim dingin karena kehilangan Nabi Saw, sampai Allah Swt menyatukan mereka dengan Kekhalifahan Abu Bakar. Dalam mengemban amanah tersebut, ayahku ditimpa berbagai kesulitan yang dapat menghancurkan gunung yang kokoh andaikata kesulitan itu ditimpakan ke atasnya. Demi Allah tidaklah terjadi peselisihan di antara mereka melainkan ayahku akan memecahnya dengan kharisma pribadinya dan kapasitas ilmunya.”

Masa Kekhalifahan Abu Bakar berlangsung selama 2 tahun 3 bulan. Telah sangat banyak memberikan stabilitas dan menumpas perlawanan terhadap Islam, sekaligus melakukan pembebasan di berbagai Negeri Irak (Persia) dan memulai penaklukan di Negeri Syam (Romawi) dengan mengutus Khalid bin Walid r.a sebagai panglima perangnya. Yang hal ini kemudian yang memberikan jalan pembuka selanjutnya pada Khulafa`Rasyidin untuk semakin memperluas wilayah kekuasaan dan syiar Islam.

Beliau wafat pada hari Senin di malam hari, ada juga yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah Maghrib, malam selasa dan dikebumikan pada malam itu juga yaitu tepatnya pada hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir tahun 13 H. Ketika sakit ia menuliskan wasiat agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin Khattab r.a, dan setelahnya dibacakan pada segenap kaum Muslimin dan mereka menerimanya dengan segala kepatuhan dan ketundukan.

Abu Bakar ash Shiddiq r.a wafat pada usia 63 tahun, persis dengan usia Nabi Saw. Akhirnya Allah Swt mengumpulkan jasad mereka dalam satu tanah, sebagaimana Allah mengumpulkan mereka dalam kehidupan.

Abu Sa`id r.a berkata, suatu ketika Rasulullah Saw pernah berkhutbah dihadapan manusia dan berkata,
Sesungguhnya Allah telah memberi seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih apa-apa yang ada di sisi-Nya, dan ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi Allah.
Maka tiba-tiba Abu Bakar pun menangis, dan para sahabat heran karena tangisannya terhadap kabar yang disampaikan Rasulullah Saw tentang seorang hamba yang diberi pilihan itu. Ternyata beliaulah hamba yang diberi pilihan tersebut, dan Abu Bakarlah satu-satunya orang yang mengetahui (akan hal itu) di antara para sahabat.

Galih, 14 Juni 2014

Daftar Pustaka:
Dirangkum dari Al Hafizh Ibnu Katsir, Tartib wa Tahdzib Kitab Al Bidayah Wan Nihayah. Terj. Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul Yang Agung (Jakarta:Darul Haq)

Guru dan Cinta


Setiap insan akan menjadi seorang guru. Guru bagi masyarakatnya, guru bagi keluarganya dan guru bagi dirinya sendiri. Bagaimana cara kita menjadi seorang guru yang baik, yaitu menjadi guru yang dapat memberikan kecintaan, sehingga akan dirindukan dan dipanuti? Pertama adalah dengan pengenalan dan kecintaan seorang guru tersebut terhadap Tuhannya (Allah), sehingga seorang guru itu pun akan melakukan dan memberikan apa yang juga dicintai dan disenangi Tuhannya kepada murid-muridnya (masyarakat, keluarga dan dirinya).

Pendidikan tidak akan berjalan dengan berhasil tanpa dilandasi dengan kecintaan, dan kecintaanlah yang melandasi keberhasilan seorang guru mendidik murid-muridnya. Kecintaan yang akan mendorong guru untuk berbuat sepenuh hati, sebesar diri dan tanpa mengharap pamrih lebih. Keberhasilannya adalah nilai tinggi yang tidak dapat diukur oleh materi.

Karena sebab dan hakikat kecintaan dan kebaikan sesungguhnya itu adalah dari Allah, maka belumlah sempurna bagi seseorang untuk menggurui (memberikan pendidikan), tanpa dasar kecintaannya karena Allah, sebagai bukti kecintaan tertinggi dan pasti.

“Tiap-tiap surat Al Qur`an senantiasa dimulai dengan “Bismillahirrahmaanirrahiim”, kecuali satu surat, yaitu Surat at Taubat. Di sana tersebut sifat Tuhan Rahman dan Rahim. Maha Kasih dan Maha Sayang. Kasih dan Sayang adalah akibat dari cinta.

Nyatalah sudah bahwa yang lebih dahulu cinta kepada hambaNya ialah Tuhan. Maka yang akan lebih dahulu ditanamkan dalam hatinya seorang hamba ialah menyambut cinta Tuhan itu dengan cinta pula. Apabila cinta telah mendalam, tidak ada lagi kehendak kecintaan yang berat dipikul. Apakah cinta telah terpadu, maka di antara yang mencintai dengan yang dicintai samalah kesukaannnya dan sama pula yang tidak disukainya.

Maka pokok yang utama dari tugas seorang guru ialah menanamkan dan menyuburkan rasa cinta itu dalam hati murid-murid.
Tetapi hendaklah guru itu menanyai dirinya lebih dahulu apakah dia sudah mempunyai rasa cinta itu pula kepada Tuhannya? Sebab orang yang tidak mengenal dan merasai cinta, tidaklah dapat mengarang percintaan.” (Buya Hamka, Lembaga Budi, 1985)

(9 Dzulhijjah 1436 H/ 23 September 2015)

Sep 18, 2015

Raut Wajah Syi`ah


 
Sepeninggal Rasulullah Salallahu `alihi wasallam danberlangsung pada masa sahabat radiallahu anhum, umat Islam dihadapkan dengan munculnyaaliran-aliran yang

melakukan perlawanan dan pendangkalan terhadap Islam. Baik yang secara terang berlawanan dengan Islam, seperti munculnyanabi-nabi palsu dengan para pengikutnya yang

akhirnya dapat ditumpas, hingga sekelompok orang yang mengaku diri Muslim namun berseberangan dengan pemahaman mayoritaspara sahabat, yang tidak lain juga dipengaruhi

oleh musuh-musuh Islam.Mengingat kegemilangan dan perkembangan Islam yang begitu pesat melalui tangan Rasulullah Salallahu `alihi wasallamdan para sahabat

setelahnya,sebagai pemimpin dan generasi terbaik, yangsangat militan dalam menegakkan panji-panji Islam dan membebaskan berbagai negeri, khususnya dua kekuatan adidaya

ketika itu,Romawi dan Persia.

    Salah satu fitnah besar yang saat itu terjadi, adalah munculnya aliran Syi`ah yang dipengaruhi oleh pemikiran Abdullah bin Saba`.Ia diketahui sebagai seorang

Yahudi yang masuk Islam pada masa khalifah Utsman bin Affan ra. Meskipun dikalangan sebagian tokoh Syi`ah, Abdullah bin Saba` dianggap fiktif. Namun sebagian lagi

mengakuinya, dan seluruh sejarawan dan mutakallimun Ahlusunnah wal jamaah mengakui adanya tokoh tersebut.

    Abdullah bin Saba` atau juga populer dengan Ibnu Sauda`, merupakan seorang Rabi Yahudi dari Shan`a Yaman, yang berpura-pura masuk Islam sekitar tahun 30 H.

Hidup dengan berpindah-pindah dari Hijaz, ke Bashra, ke Kuffah, lalu ke Syam. Ia dikenal sebagai provokator ulung, yangmembuat fitnah dan propaganda tentang

persengketaan para sahabat dengan ahlul bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Saw), khususnya pada orang-orang dan daerah tertentu yang masih lemah dan awam

keislamannya. Menyatakan bahwa Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra, merampas kepemimpinan yang menurut kalangan Syi`ah menjadi hak Ali bin Abi Thalib ra dan penerusnya

(anak-cucunya), hingga pada tahap ekstrim menyatakan bahwa Ali adalah Tuhan, yang ketika itu membuat Ali bin Abi Thalib rasangat marah dan hampir mengeksekusinya,

namun diasingkan atas nasehat Abdullah bin Abbas ra. Tidak sampai berakhir disitu, Abdullah bin Saba`  justru meningkatkan intensitas gerakannya dan merekrut lebih

banyak pengikut, dengan berkolaborasi bersamaorang-orang Majusi yang memiliki dendam dan kebencian besar terhadap umat Islam yang telah meruntuhkan Imperium Persia, di

dalam pengasingannyaketika di Mada`in, yang merupakan bagian dari wilayah Iran saat ini. Berbagai konspirasidilakukan untuk menyebarkan pemahamannya, hingga

terpecahnya perang Jamal dan perang Shiffin, yang tidak lepas dari makar mereka.

    Dua hal pokok inilah yang menjadi propaganda utama Abdullah bin saba`, yaitu mengangkat teologi tasyayyu` (Mencintai Ahlu bait secara berlebihan) dan menolak

atau memusuhi sejumlah besar sahabat Rasulullah Saw dari pengikut kebenaran. Dengan mengatakan bahwa semua sahabat murtad pasca wafatnya Nabi, kecuali Miqdad bin

Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi.

    “Syi`ah” secara etimologi atau asal kata,memiliki arti pengikut atau pendukung. Istilah ini pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ra tidak bermasalah atau

tidak dikenal sebagai nama golongan dengan teologi atau aqidah tertentu. Ketika itu kelompok yang menamakan diri “Syi`atu Ali” atau pendukung Ali, merupakan orang-

orang yang sangat mencintai sahabat dan istri-istri nabi, dan beraqidah sesuai dengan ajaran Nabi Saw. Pun demikian yang menjadi pendukung Ustman bin Affan radisebut

“Utsmani”.Syi`ah dahulu yang ikut serta di barisan khalifah Ali bin Abi Thalib ra atau mereka yang hidup zaman itu sepakat mengutamakan Abu Bakar dan Umar, dan hanya

berselisih tentang mana yang lebih utama antara Ali dan Utsman. Adapun Syi`ah yang lebih dikenal setelahnya, sekitar tahun 120 H hingga saat ini,dengan teologi

tersendiri, merupakan kelanjutan para pengikut Abdullah bin Saba` atau Saba`iyyah yang memiliki pemahaman ekstrim dalam aqidahnya.

    Syi`ah yang dikenal sebagai sekte, bukan dalam pengertian “pendukung”, lebih tepat disandingkan dengan istilah Rafidhah, yang berarti “menolak”. Sebagaimana

menurut Imam Ahmad bin Hambal, ungkapan “Rafidhah” merujuk pada tindakan orang-orang yang berlepas diri dari para sahabat Nabi Saw, serta orang-orang yang mencaci dan

merendahkan mereka. Oleh sebab itu, kelompok Syi`ah yang mengecam dan mencaci-maki Abu Bakar ra dan Umar ra, oleh para ulama Ahlusunnah wal Jamaah (Sunni), disebut

dengan istilah Rafidhah.

    Imam Abu Hasan al Asy`ari mengatakanistilah ini pertama kali disebutkan oleh Zaid bin Ali bin al Husein (79-122 H), cicit Ali bin Abi Thalib kepada kelompok

Syi`ah.Sewaktu Zaid bin Ali bin al Husein di Kuffah, di tengah pengikutnya yang setia dan telah membaiatnya, ada sekelompok orang yang menjelek-jelekkan Abu Bakar dan

Umar, ia kemudian menyalahkan orang yang mencaci-maki itu, sehingga para pembaiat tersebut memisahkan diri darinya. Lantas beliau mengatakan kepada mereka

“Rafadhtumuni”, kalian telah meninggalkanku”

    Syi`ah Rafidhah inilah yang tepat disebutkan sebagai penerus Saba`iyyah. Termasuk Syi`ah Rafidhah saat ini adalah Syi`ah Itsna Asyariyah yang mempercayai 12

imam, atau Syi`ah Imamiyah, Syi`ah Nushairiyyah, dan Syi`ah-syi`ah lainyang menolak atau mencela para sahabat.

    Syi`ah bergulir dari konflik politik menjadi teologi, yang hingga saat ini terusmengalamiperubahan dan perkembangan. Segala konsepnya tidak lepas dari

pemahaman Imamah yang mutlak, dan teologi Imamah tidak lepas dari politik. Menjadi salah satu rukun iman, yang meskipun berada pada urutan kesekian, namun selalu

dinomor satukan. Segala amal dan keyakinannya, tidak boleh lepas dan melebihi dari Imamah.Ukuran ketauhidan dinilai dengan keyakinannya terhadap para Imam, dan

penafikkan terhadap kekhalifahan selain daripadanya. Siapa yang tidak mengakui keimaman Ali bin Abi Thalib ra beserta keturunannya, maka ia dianggap kafir. Membangun

kekuasaan politik dengan model imamah menjadi konsekuensi dan kemutlakan untuk menyokong aqidahnya dan meneguhkan kedudukan para Imam.

Imamah menjadi pondasi dan cara pandang utama Syi`ah. Seluruh ajaran Syi`ah selalu terkait dengan imamah. Keyakinan dan ketaatan kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw,

tidak diterima dan belum cukup, tanpa disertai keyakinan pada Imam. Artinya konsep Tauhid kepada Allah itu tidak dapat berdiri sendiri, kecuali ditopang dengan

kepercayaan pada para Imam.Para Imam merupakan pemimpin yang sudah ditetapkan dan ma`sum (bebas dari kesalahan) bagi Syi`ah. Hingga memilikiposisi yang lebih tinggi

dari nabi, malaikat dan Allah sekalipun.
   
    Dalam ranah aqidah hingga fiqihnya, Syi`ah memiliki perbedaan yang sangat banyak,untuk dapat dibandingkan jauh dengan Ahlusunnah wal Jamaah, yangmana ajaran

Syi`ah ini terbentuk dari hasil persilangan agama Yahudi, Majusi, Nasrani dan Islam.

Tabel Penyimpangan Syi`ah dari Ajaran Ahlusunnah


Perihal
   

A. Rukun Islam

Sunni   

1.  Syahadatain

2.  Shalat

3.  Puasa

4.  Zakat

5.  Haji

Syi`ah   

1.  Shalat

2.  Shaum

3.  Zakat

4.  Haji

5.  Wilayah
   

B Rukun Iman

Sunni   

1.  Iman kepada Allah

2.  Iman kepada Malaikat-Nya

3.  Iman kepada kitab-kitab-Nya

4.  Iman kepada Rasul-Nya

5.  Iman kepada hari akhir

6.  Iman kepada Qadha dan Qadar
   
Syi`ah

1.  Tauhid

2.  Nubuwwah

3.  Imamah

4.  Al `Adl (Keadilan)

5.  Al Ma`ad


C. Syahadat
   
Sunni

Dua kalimat syahadat
   
Syi`ah

Tiga kalimat sahadat
   

D. Imam
   
Sunni

Percaya kepada imam-imam bukan rukun iman (imam tidak terbatas dan tidak ditentukan dengan pasti)
   
Syi`ah

Percaya kepada dua belas imam-imam, termasuk rukun iman
   

E. Khilafah
   
Sunni

Khulafa` Rasyidin adalah Khulafa` yang sah
   
Syi`ah

Khulafa` Rasyidin selain Sayyidina Ali tidak sah.
   

F. Ma`shum (bebas dari kesalahan)
   
Sunni

Khalifah (imam) tidak ma`sum
   
Syi`ah

Para Imam adalah ma`sum
   
Sunni

Sahabat
Dilarang mencaci setiap sahabat
   
Syi`ah

Mencaci para sahabat dan menganggap para sahabat banyak yang murtad
   

G. Istri Rasul

Sunni   

1.  Sayyidah `Aisyah sangat dihormati

2.  Para istri Rasul termasuk Ahlul Bait
   
Syi`ah

1.  Sayyidah `Aisyah dicaci-maki

2.  Para istri Rasul bukan Ahlul Bait
   

H. Al Qur`an
   
Sunni

Tetap orisinil
   
Syi`ah

Sudah diubah oleh para sahabat
   

I. Hadist
   
Sunni

1.  Shahih Bukhari

2.  Shahih Muslim

3.  Sunan Abu Daud

4.  Sunan At Turmudzi

5.  Sunan Ibnu Majah

6.  Sunan An Nasa`i

Syi`ah   

1.  Al Kaafi

2.  Al Istibshor

3.  Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih

4.  At Tahdzib
   

J. Surga dan Neraka
   
Sunni

Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan neraka bagi yang tidak taat

Syi`ah   

Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, dan neraka bagi yang memusuhinya


K. Imam Mahdi
   
Sunni

Imam Mahdi adalah sosok yang akan membawa keadilan dan kedamaian
   
Syi`ah

Imam Mahdi kelak akan membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah, serta Ahlul Bait yang lain. Selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga

orang itu akan disiksa.

(Sumber: Buku Panduan MUI Pusat, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi`ah di Indonesia)


    Syi`ah sangat menyimpang dan bertentangan dari Islam, sedangkan Ahlusunnah wal Jamaah(Pengikut Al Qur`an dan Sunnah) merupakan Islam itu sendiri, yang telah

mendapat jaminan dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw dan para sahabat.

    Oleh sebab itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memfatwakan kesesatan Syi`ah dan menyatakan bahwa Syi`ah bukan Islam, melalui surat Fatwa MUI Nomor

01/SKF- MUI/JTM/I/2012, yang dikuatkan dengan hadirnya Buku Panduan MUI Pusat, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi`ah di Indonesia oleh Tim Penulis MUI Pusat

tahun 2013. Dan didukung dengan keluarnya Peraturan Gubernur Jawa Timur No.55 Tahun 2012 tentang Pembinaan Kegiataan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa

Timur, pasca terjadinya kasus Syi`ah di Sampang Madura, dan perkembangan Syi`ah yang terjadi seperti di Jember, Bondowoso, Malang dan lainnya, yang salah satunya telah

memakan korban. Beberapa negeri-negeri Islam lainnya justru lebih tegas, dengan melarang masuk dan menyebarnya ajaran Syi`ah, seperti di Malaysia dan Sudan.

    Sebelumnya,Departemen Agama RI (Sekarang Kementrian Agama RI) pada tanggal 5 Desember 1983 juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: D/BA.01/4865/1983,

tentang “Hal Ihwal Mengenai Golongan Syi`ah”. Dalam surat itu dinyatakan bahwa ajaran Syi`ah tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Disusul kemudian

pada 4 Jumadil Akhir 1404 H/ 7 Maret 1984 M dalam Rakernas Majelis Ulama Indonesia di Jakarta, merekomendasikan perlunya umat Islam bangsa Indonesia, waspada terhadap

menyusupnya paham Syi`ah yang memiliki perbedaan-perbedaan pokok dengan ajaran Islam Ahlusunnah. Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) juga telah mengeluarkan surat

resmi Nomor: 724/A.II.03/10/1997, 12 Rabiul Akhir 1418 H/ 14 Oktober 1997 M, yang mengingatkan perlunya umat Islam bangsa Indonesia mengetahui perbedaan prinsipil

ajaran Syi`ah dengan Islam.

Ulama-ulama yang banyak memberikan sumbangsih besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia,seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asya`ri (Pendiri NU), Prof. Dr. Hamka    

(Tokoh Besar Muhammadiyah), Dr. Muhammad Natsir (Perdana Mentri RI tahun 1950, Pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dan KH. Hasan Basri (Ketua MUI 1985-1998),

juga telah memfatwakan tentang kesesatan, penyimpangan dan kewaspadaan terhadap Syi`ah.

    Demikian halnya para ulama-ulama salaf (terdahulu), yang memiliki otoritas lebih tinggi dan diikuti mayoritas umat Islam Ahlusunnah wal jamaah hingga kini,

bersepakat tentang penyimpangan dan kesesatan Syi`ah Rafidhah. Imam Ibnu Katsir, Imam Qurtubi, Imam Bukhari, Imam al Ghazali, Abdul Qadir Al Baghdadi, Imam Asy

Syaukani, Ibnu Hazm, Ibnu Jauzi, Ibnu Taimiyyah serta para Imam madzhab (Imam Malik bin Anas, Imam Asy Syafi`i, Imam Ahmad bin Hambal), mengatakan bahwa golongan

Syi`ah Rafidhah yang membenci sahabat Nabi Saw dan mengatakan bahwa Al Qur`an telah dikurangi, adalah kafir dan membatalkan syariatnya. Melarang umat Islam sholat

dibelakang Syi`ah Rafidhah, tidak boleh memberi salam pada mereka, tidak boleh menjadikan mereka sebagai saksi, tidak boleh menikah dengan mereka, tidak memakan hewan

hasil sembelihan mereka, dan lainnya.

    Para ulama tentunya telah mengkaji dan menentukan hal ini dengan sangat matang dan mendalam, sebagai kemudahan dan pengamanan bagi umat Islam, agar tidak salah

jalan dan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar. Sebagaimana pelajaran dari sejarah panjang Syi`ahyang dipenuhi dengan pengkhianatan dan kekejaman yang

menumpahkan banyak darah, harta, jiwa dan penderitaan bagi Ahlusunnah. Disebabkan penyimpangan, dendam dan kebencian mereka terhadap umat Islam, yang mayoritas hingga

kini terus memuliakan dan mengikuti para sahabat, serta tidak hanya membatasi diri pada ahlul bait, sesuai dengan perintah Rasulullah Saw.(Galih)

Sejarah Pengkhianatan Syi`ah Terhadap Ahlusunnah   

Bentuk Pengkhianatan

   
1. Pada masa Khulafaur Rasyidin, 11-40 H/ 632-661 M.

Pembunuhan Khalifah ke-2 Islam, Umar bin Khattab ra, tahun 23 H/ 644 M. Pelakunya adalah Abu Lu`luah al Majusi yang dijuluki “Babul Syuja`uddin (Bapak pembela agama)

oleh kaum Syi`ah Rafidhah, yang makam simboliknya dihormati dan tempat berkumpulnya Syi`ah radikal untuk berdoa di Iran


2. Pembunuhan Khalifah ke-3 Islam, Utsman bin Affan ra, tahun 35 H/ 656 H.

Pelakunya adalah Abdullah bin Saba` memprovokasi dan menggalang kekuatan untuk melawan khalifah ketiga, hingga Utsman terbunuh oleh para pemberontak akibat fitnah yang

dilancarkannya Orang-orang


3. Syi`ah lari dari medan perang meninggalkan khalifah ke-4 Islam, Ali bin Abi Thali ra yang akan menyerang Syam, tahun 40 H/ 661 M.

Pelakunya adalah Penduduk Iraq terutama Kuffah dan Bashrah
   

4. Pada masa Bani Umaiyyah 40-132 H/ 661-750 M
   
Pembunuhan terhadap Husein bin Ali bin Abi Thalib 61 H. Pembunuhnya adalah orang Syi`ah sendiri, yaitu Sinan bin Anas An Nakha`i dan Syamr bin Dzill Jusyan yang

dipimpin oleh `Ubaidillah bin Ziyad


5. Abbasiyyah 132-656 H/ 750-1257 M
   
Merobohkan penjara yang dihuni 500 narapidana, tahun 170-193 H. Pelakunya adalah Mentri Syi`ah yang bernama Ali bin Yatqin pada masa Harun Ar Rasyid


Pengkhianatan Dinasti Fatimiyyah bekerjasama dengan tentara salib untuk membantai umat Islam ahlusunnah, dan memaksakan Syi`ah pada penduduknya

6. 301-567 H, Daulah Fatimiyyah yang Syi`ah

Penyerangan kota Mekkah oleh orang-orang Qaramitah, membunuh puluhan ribu jamaah Haji dan mencuri Hajar Aswad, yang selama 20 tahun baru kembali (336 H), tahun 317 H.

Pelakunya Abu Thahir ar Rafidhi al Qurmuthi.

7. Pengkhianatan mentri Syi`ah dalam menghancurkan Baghdad (pusat pemerintahan Islam Abbasiyyah), bekerjasama dengan pasukan Tartar.

Ratusan ribu kaum Muslimin terbunuh, dari tua, muda, laki-laki dan wanita. Tahun 656 H, pelakunya adalah Muhammad bin Qami dan Nashiruddin Ath Thursi
   

8. Iran 1399 H/ 1979 M
   
Pengkhianatan Khomeini, memimpin Iran selama 10 tahun dengan api dan besi, menggantung oposisinya 150.000 orang, mengusir 3 juta orang. Tahun 1399 H/ 1979 M, pelakunya

Khomeini memimpin negara Syi`ah Iran


Aug 23, 2015

Manusia Bisa Tahu Kebenaran dan Mengikutinya


Pemikiran merupakan tahapan awal dalam proses pencarian. Seorang yang berpikir tentang suatu hal dapat tergiring pada bentuk perasaan yang berupa keyakinan atau keraguan, penerimaan atau penolakan. Pemikiran juga menghasilkan keinginan atau kemauan yang selanjutnya dapat teraplikasi dalam pernyataan atau perbuatan. Pernyataan atau perbuatan seseorang dapat mencerminkan apa yang dipikirkan. Maka pemikiran erat kaitannya dengan keimanan yang merupakan ukuran aqidah Islam dan sarana menentukan kebenaran. Seorang yang berpikir atau menyatakan bahwa semua agama adalah benar, sejatinya ia tidak hanya sekedar berpikir tentang kebenaran agama yang dianutnya, namun juga meyakini kebenaran agama lainnya. Dalam arti berpikir tentang apa yang diyakininya dan meyakini apa yang dipikirkannya.
Selain dengan akal, proses berpikir juga melibatkan hati, ia merupakan bagian tertinggi dalam diri yang dapat memikirkan dengan jernih dan sesuai dengan fitrah dan nurani, menjadi wadah terpupuknya keyakinan atau keraguan, kebenaran atau kesalahan.
Kaum Sofis pada masa Yunani atau kaum Relativis pada masa sekarang, telah memberikan penyakit pemikiran yang kronis. Ia merupakan bentuk pemikiran yang mengiring manusia pada keraguan (skeptis) dan kebingungan (confius), pemikiran relatif yang tidak meyakini segala sesuatu, dan meragukan segala sesuatu. Baginya kebenaran dari objek dan ilmu itu tidak ada, ia tergantung dari pemikiran seseorang tentangnya.
Relativisme memunculkan sikap berlepas diri dan mengakui semua perbedaan tanpa ada klaim kebenaran tunggal. Bagi mereka, manusia adalah mahluk yang relatif sehingga tidak mampu untuk mencapai kebenaran, hanya Tuhan yang tahu kebenaran mutlak. Jadi salah atau benar, itu adalah hal relatif bagi manusia dan bisa dinegasikan. Karena hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran, maka kebenaran tertinggi adalah ketika seseorang mengatakan “Saya tidak tahu”.
Cara berpikir bahwa “Tidak ada kebenaran mutlak” juga telah diangkat menjadi metodologi ilmiah dalam dunia akademik, bahwa yang namanya ilmiah adalah tidak meyakini sesuatu dan tidak memihak pada salah satu, jika memihak itu akan menjadi subjektif atau ideologis. Tidak menyampaikan antara yang benar dan salah, dan seseorang dipersilahkan untuk memilih sendiri yang menurutnya lebih sesuai. Dengan kesimpulan akhir bahwa “Benar menurut anda belum tentu benar menurut saya, jika anda mengklaim itu benar, saya juga berhak mengklaim itu salah. Pemikiran manusia itu relatif dan hanya Tuhan yang absolut atau tahu kebenaran, sehingga seseorang itu tidak berhak menyalahkan yang lain dengan mengatakan sesat, tidaklah layak seseorang memposisikan diri sebagai Tuhan dengan mengatakan demikian” kebenaran adalah kembali pada pendapatnya tentangnya.
Dasar pemikiran yang menganggap semua relatif seperti ini pula yang kemudian melahirkan paham-paham seperti pluralisme yang menyamakan semua agama, feminisme yang mensejajarkan antara wanita dan pria, dan banyak pemahaman lainnya yang menjadi sistem hidup seperti demokrasi dan HAM yang memandang dan menyetarakan manusia, dengan harapan tidak ada diskriminasi dan tidak saling menyalahkan.
Pernyataan “Tidak ada kebenaran mutlak” atau “Semua kebenaran sama” sebenarnya juga sangat kontradiktif dan berlawanan. “Tidak ada” atau “semua” merupakan bentuk pernyataan yang memutlakkan. Padahal ia juga mengatakan bahwa “semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan tersebut juga berarti relatif dan tidak mutlak. Kalau “Semua adalah relatif”, maka yang mengatakan “Di sana ada kebenaran mutlak” sama benarnya dengan yang menyatakan “Di sana tidak ada kebenaran mutlak”. Yang bermakna merelatifkan semua kebenaran, namun memutlakkan nilai kebenaran dari pernyataannya. Meragukan kebenaran, dan membenarkan keraguaannya. Maka pernyatan-pernyataan seperti juga menunjukkan hal yang ambigu dan absurb, yang memiliki arti dapat terbuka terhadap gugatan, anggapan, serta pertanyaan.
Memberi maksud logis yang ingin dinyatakan bahwa “Manusia itu tidak tahu kebenaran mutlak kecuali saya” atau “Semua kebenaran itu relatif, kecuali kebenaran dari pernyataan saya”. Jika saja ia konsisten dengan pendapatnya bahwa “Hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran” seharusnya ia tidak ngomong dan juga tidak ikut menyalahkan yang mengetahui dan menyatakan tahu akan kebenaran, sebab ia sendiri bukan Tuhan dan tidak tahu akan kebenaran.
Maka seorang yang menolak konsep kebenaran sekalipun, tidak dapat menolak dan tak terasa telah meyakini kebenaran konsep pemikiran mereka sendiri. Seorang atheis yang tidak mempercayai Tuhan karena membatasi konsep kebenaran pada yang terindra, tetap percaya bahwa keyakinannya tentang ketiadaan Tuhan itu benar adanya. Keraguaannya akan banyak atau satu hal, akan memilihkannya yakin pada hal lainnya. Inilah keyakinan yang menurutnya benar, dan akan selalu ada pada setiap diri manusia.

Mengetahui Kebenaran
Islam memberikan perintah wajib untuk belajar sejak dini, untuknya dapat mencari, mengetahui hingga meyakini, dengan puncak pengetahuan tertinggi dalam Islam yaitu mengenal Tuhannya yang menjadi wujud keyakinan dan kecintaan kepada-Nya. Maka kebenaran dalam pandangan ummat Islam Ahlus Sunnah wal-Jama’ah adalah pasti dan bisa didapatkan. Untuk apa kemudian Allah subhanahu wa ta`ala meminta kita untuk belajar,dan mengapa Rasulullah Saw diutus untuk mengajarkan manusia, jika kebenaran dianggap relatif dan tidak ada. Lalu untuk apa pula bersusah-payah untuk belajar dan berpendidikan tinggi hingga ke luar negeri dengan seabrek title atau gelar sampai menjadi doktor atau profesor, namun tidak mampu mencapai dan mendapatkan kebenaran. Apa gunanya selama ini belajar jika tidak mengetahui dan meyakini adanya kebenaran? Bukankah seseorang itu belajar untuk mengetahui dan meyakini kebenaran, lalu mengikutinya? Abraham Lincon mengatakan “No one has the right to choose to do what is wrong” Tak seorangpun yang meyakini suatu kebenaran, lalu memilih jalan yang ia yakini salah. Maka dalam Islam ilmu itu adalah kepastiaan yang mengantarkan pada kebenaran dan keyakinan. Seorang yang semakin bertambah ilmunya, mestinya harus semakin bertambah keyakinan atau keimanannya, yang menjadi prinsip kebahagiaan. Tidak akan ada orang yang bahagia dengan keraguan, sebab kebahagiaan itu adalah ketika seorang yakin pada sesuatu, dan hidup dalam keyakinannya.
Manusia sebagai mahluk yang telah diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta`ala dengan sempurna, telah diberikan kemampuan dan daya untuk mampu mencapai kebenaran. Meski juga dengan keterbatasannya, tapi tidak sampai menggugurkan nilai kebenaran dan keabsahan ilmu pengetahuan dan kenyataan yang didapatkannya.
Manusia normal, pada umumnya mampu untuk memilah, membedakan, menilai dan menentukan, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang berguna dan mana yang berbahaya, dan seterusnya. Dengan kapasitas diri dan ilmunya, secara lahir dan batinnya, mental dan spiritualnya, akal dan hatinya, yang menjadi diameternya.
Maka dalam Islam, mengetahui dan mengenal bukanlah sesuatu yang mustahil. Yang masih dipertanyakan atau dapat dinegasikan. Tidak benar kemudian ungkapan-ungkapan yang menyudutkan atau membenarkan segala hal, sebagaimana kaum sofis atau relativisme yang menganggap manusia tidak dapat mengetahui kebenaran.
            Pendirian kaum Muslimin bahwa kebenaran itu bisa didapatkan. Dalam soal ini disimpulkan oleh Abu Hafs Najmuddin ‘Umar ibn Muhammad an-Nasafi dalam kitab Aqa`id menjelaskan secara ringkas“haqa’iqul asyya’ tsabitah, wal-ilmu biha mutahaqqiqun, khilafan lis-sufistha’iyyah”.Ditegaskan bahwasanya hakikat, kuiditas atau esensi dari segala sesuatu itu tetap (dan oleh karena itu bisa ditangkap), tidak berubah (sebab yang  berubah-ubah itu hanya sifat-sifatnya, a’rad, lawahiq atau lawazim-nya saja), sehingga ia bisa diketahui dengan jelas. Maka ilmu tentang kebenaran tidak mustahil untuk diketahui oleh manusia sebagaimana ditegaskan dalam   Al-Qur’an surah az-Zumar (39:9): “…. katakanlah: Apakah sama, orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?”[1]
            Jadi kuiditas atau esensi dari segala sesuatu itu tetap. Gula rasanya manis, garam rasanya pahit, manusia bisa dibedakan dengan monyet, meskipun monyet dipakaikan baju, ia akan tetap jadi monyet dan tidak akan pernah menjelma menjadi manusia. Seorang anak bernama agus, meskipun ia tumbuh menjadi remaja, dewasa dan tua dengan perubahan fisiknya ia tetap akan dikenal sebagai agus, tidak akan berubah menjadi slamet dan tidak akan dipanggil slamet, selama orang telah mengenalnya dan tidak mengubah namanya.
Berbeda dengan kaum relativis yang mengganggap kebenaran dari suatu objek itu tidak ada, sehingga selalu saja beralasan, meragukan, keras kepala dan tidak akan pernah mencapai kebenaran. Misal mengatakan “gula itu rasanya bisa saja manis atau pahit, tergantung orangnya, kalau ia sehat bisa manis, kalau ia sakit bisa jadi pahit”, “api itu rasanya bisa saja panas atau tidak, tergantung orangnya, kalau ia kebal tidak akan panas”.
Namun esensi atau hakikat segala sesuatu itu tetap dan tidak berubah. Semut yang tidak bisa berpikir saja tidak pernah salah untuk mengambil antara gula yang manis dengan garam. Api zaman dahulu dan zaman sekarang juga tetap sama dan tidak berubah, ia panas dan dapat membakar, jika kaum relativis tidak yakin, bisa dibuktikan dengan berdiri di atasnya selama beberapa jam saja. Presiden Indonesia yang pertama itu adalah seorang laki-laki, dan itu sudah diakui, namun orang relativis bisa saja mengatakan ia bisa jadi wanita atau banci. Wanita cantik atau kembar sekalipun, yang sering dikatakan relatif, sebenarnya dalam hakikat yang dapat dinilai seseorang, memiliki nilai lebih dan mutlak yang dapat dipilih.
Yang perlu digaris bawahi bahwa kebenaran mutlak sesungguhnya adalah dari Allah, manusia memiliki kebenaran atau kenyataan yang bersifat sementara, kecuali pada esensi diri dan ilmunya yang kelak akan diperhitungkan. Dalam kehidupan, ukurannya bukan dari hukum kausalitas atau sebab akibat yang dapat diindra secara fisik saja seperti api rasanya panas. Namun sebenarnya ada sunnatullah atau ada kehendak Allah di dalamnya yang menjadikan sesuatu itu berjalan atau bereaksi sebagaimana kita dapatkan pada umumnya. Allah bisa saja menjadikan api itu dingin, sebagaimana menjadikannya panas, seperti pada kisah nabi Ibrahim Alaihi sallam. Bisa menjadikan seseorang berjalan dengan wajahnya, sebagaimana menjadikannya dapat berjalan dengan kakinya, ketika dihari pembalasan, dan lainnya, agar seseorang tidak sombong dan dapat mengambil hikmah dibaliknya. Semua dapat berlaku jika Allah menghendaki dan memberikan izin pada waktu yang telah ditentukan.
Islam menetapkan bahwa manusia dapat mengetahui kebenaran adalah melalui tiga sumber yaitu persepsi indra (idrak al-hawass), proses akal yang sehat (ta`aqqul), serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar shadiq). [2] Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur`an. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”(QS.an Nahl:78). “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS.al Isra:36). “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya serta menyaksikannya.”(QS.Qaf:37). “Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, serta mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengannya dapat mendengar? Memang sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi telah buta hati yang ada di dalam dada.” (QS.Al Imran:138). “Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al Imran:138). “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dan Allah, dan kitab yang memberi penjelasan.”(QS.Al Ma`idah138). “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Qs.Al A`raf:179)
Panca Indera
Manusia memiliki lima kapasitas  dari pancaindra yang diberikan Allah kepadanya, yang mana merupakan saluran pertama manusia untuk mengetahui kebenaran atau fakta yang didapatkannya, yaitu daya penglihatan, pendengaran, daya sentuh, daya cium dan daya rasa.
Seseorang dapat meraba dan merasakan bentuk dan rasanya roti yang manis, sehingga ia yakin untuk memakannya. Pada daya melihat, kita dapatkan secara jelas warna, bentuk, jenis dan lainnya.Seandainya ada seorang anak yang buta sejak kecil, maka warna itu tidak wujud baginya, warna tidak ada dalam memorinya. Ia tidak bisa membuktikan ada warna hitam jika tidak mengetahui adanya warna putih, warna hijau, warna biru, dan sebagainya, kecuali dengan bersandar pada yang dapat melihat. Informasi tentang warna hanya bisa dijangkau dengan daya penglihatan, semisal buah apel meskipun disentuh, dibunyikan dan dicium tidak akan pernah menghasilkan warna hijau. Masing-masing pancaindera ini memberikan informasi atau konsep ilmu tersendiri. Yang hal itu bisa kita ambil sebagai kebenaran pada sumber realitas atau empiris.
            Namun sifat dari pancaindera itu sendiri terbatas, dan terkadang menghasilkan ilmu yang masih parsial. Untuk mengindera secara fisik saja kita tidak dapat menyimpulkannya dengan benar. Seseorang dapat merasakan adanya angin, namun tidak akan mampu melihat dan menggambarkan bagaimana rupanya. Bisa merasakan rasa manis, namun tidak bisa menunjukkan di mana letak manis tersebut.Sebagaimana juga dikisahkan oleh Imam Ghazali ketika seorang melihat bulan di langit pada kegelapan malam, ukuran bulan terlihat kecil, padahal sebenarnya bahwa bulan itu besar. Itulah beberapa keterbatasan panca indra.
Akal dan Hati
Akal yang normal merupakan saluran ilmu yang menjadi kapasitas manusia untuk dapat menilai, memilih, memilah, membandingkan, membedakan antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang betul dan keliru, dan lainnya.
Akal merupakan penyempurna dari kelemahan pancaindera. Akal dapat menalar dan menjadi alur pikir untuk menyimpulkan lebih luas. Sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Ghazali, meski manusia ketika itu belum sampai ke bulan, namun bisa memberikan kesimpulan bahwa bulan itu besar, tidak seperti yang terlihat oleh mata bahwa bulan sebesar uang logam. Sama halnya ketika kita melihat rumah dari jarak jauh yang terlihat sebesar genggaman tangan, namun akal akan menafikkannya, dan dapat menyimpulkan bahwa rumah tersebut besar.
Orang-orang arab dahulu tahu, bahwa adanya kotoran unta, menandakan ada unta yang pernah atau lewat di tempat tersebut. Adanya kurma menandakan adanya pohon yang membuahkannya. Adanya asap yang keluar dari rumah, menandakan adanya api di dalam rumah tersebut.
Akal memiliki tiga kriteria, yaitu wajib, mustahil dan mungkin. Wajib bagi akal adalah sesuatu yang akal kita tidak bisa menolaknya dan harus menerimanya. Seperti seorang anak lebih muda dari bapaknya, keseluruhan lebih besar daripada sebagian. Jadi ada sesuatu yang akal tidak bisa menolak.
Yang mustahil bagi akal, atau akal tidak dapat menerimanya. Seperti seorang anak lebih tua dari bapaknya dan sebagian lebih besar daripada keseluruhan. Ini adalah yang mustahil bagi akal.
            Dan yang paling banyak adalah mungkin bagi akal. Seperti anak lebih besar dari bapaknya, istri lebih tua dari suaminya.
Dalam Islam kematangan akal ini menjadi salah satu syarat seseorang untuk dibebankan suatu kewajiban yaitu ketika baligh, sebab ia sudah mampu berpikir dan membandingkan dengan sempurna.
Islam mengakui sumber ilmu dari panca indera (empiris) dan akal (rasional), sebagaimana diadobsi dalam dunia akademik Barat saat ini. Namun sebenarnya tidak cukup dan terbatas pada dua hal itu, orang-orang yang hanya bersandar pada dua hal itu akan tergiring pada spekulasi atau praduga yang tidak ada puncaknya, sehingga kebenaran bagi mereka akan terus berkembang dan bisa berubah-ubah, tergantung dari perubahan dan kebutuhan waktunya, satu teori bisa diganti dengan teori lainnya. Karena Barat juga tidak mengakui wahyu dan hati sebagai sumber ilmu dan kebenaran, sehingga patokan utamanya hanya berdasarkan pada pancaindra dan akal saja yang membuat praduga dan keraguan-keraguan, serta kebingungan yang diangkat pada derajat “ilmiah”, bagi mereka wahyu dan hati itu hanya pengetahuan dan bukan ilmu.
Selain dengan akal, proses berpikir juga melibatkan hati, ia merupakan bagian tertinggi dalam diri yang dapat memikirkan dengan jernih dan sesuai dengan fitrah dan nurani.
Menurut Imam Ghazali hati juga memiliki entitas yang sama dan berkedudukan di hati. Qalb (hati) diibaratkan sebagai istananya, sedangkan `aql (akal) adalah rajanya. Keduanya memiliki fungsi kognisi (pengetahuan) dan afeksi (sikap) karena keduanya mampu melakukan aktivitas berpikir sekaligus merasa. [3]
Hati kecil atau hati nurani merupakan tempat untuk memikirkan lebih mendalam, dan penilaian hati itu akan kembali pada fitrah atau alamiah seseorang sebagai makhluk dan hamba Allah dalam kebaikan. Membunuh tanpa ada alasan itu adalah bentuk kejahatan. Menyakiti atau menzalimi seseorang merupakan perbuatan yang tidak disukai. Mencuri merupakan keburukan. Semua merupakan nilai lahir yang dimiliki manusia, selama hatinya tidak tertutupi oleh keingkaran dan kesesatan. Tidak ada seorang yang menerima dan meminta agar dirinya disakiti dan barangnya  dicuri, karena menganggap hal itu relatif.
Jika pancaindra hanya dapat menjangkau secara fisik, namun akal dan hati dapat memikirkan lebih luas dan mendalam lagi. Mengapa daun warnanya hijau? Karena ada klorofilnya yang membuat warna hijau. Tapi mengapa daun tersebut berwarna hijau dan tidak berwarna merah atau coklat saja? Mengapa alam semesta beredar pada garis edarnya dan tidak saling bertabrakan dan mendahului dengan lainnya? Mengapa matahari dibuat dengan begitu panasnya dengan jarak yang begitu jauhnya, padahal jika lebih sedikit saja didekatkan lagi akan dapat membakar bumi?  Mengapa bumi diciptakan dengan berbagai penunjangnya sehingga dapat menjadi tempat hidup manusia, tumbuhan dan hewan, sedangkan diplanet lain tidak? Mengapa tubuh manusia terbentuk sangat seimbangnya, antara DNA, sidik jari dan suara dari milyaran manusia tidak ada yang serupa? Berbagai pertanyaan mendasar pada diri itu akan mengiring manusia pada lahirnya yaitu kebutuhan dan keterbatasan terhadap sesuatu dalam jiwa dan pikirannya.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS.Al Imran 190-191)
Pancaindra, akal dan hati sebenarnya dapat mengiring seseorang padakeyakinan tentang adanya Sang Pencipta, namun hal itu saja tidak akan cukup. Keyakinan akan adanya  sang pencipta, harus dibimbing pada ilmu yang benar, sehingga tidak menduga-duga bahwa Tuhan itu satu, dua, tiga atau ada puluhan. Tidak menduga-duga tentang wujud Tuhan, sehingga digambarkan seperti manusia, ada yang berbentuk setengah binatang, ada yang laki-laki dan wanita, semua berasal dari kreasi pemikiran dan hawa nafsunya manusia. Membuat hukum yang sesuai dengan keinginannya, dan tidak sadar mendiskriminasi yang lainnya. Atau juga menduga-duga dan menyebarkannya pada manusia bahwa manusia berasal dari kera, hanya dengan berdasar pada sejarah manusia secara fisiknya, yaitu tulang dan dagingnya, yang sebenarnya lebih pada “sejarah tulang manusia” bukan sejarah manusia. Padahal manusia memiliki memiliki “ruh” yang menjadi unsur esensi utama manusia. Seorang bergerak dan beraktivitas sesuai dengan dorongan ruh atau jiwanya, oleh karenanya seorang manusia yang tidak memiliki tangan atau kaki masih dikatakan sebagai manusia, sedang seorang yang memiliki organ lengkap tapi tidak memiliki ruh atau telah mati, sudah tidak dikatakan manusia.
Maka banyak hal yang dasarnya tidak harus bisa dijelaskan secara empiris, namum bisa diterima secara rasional. Bagaimana menjelaskan secara ilmiah seorang nabi Isa lahir dari seorang ibu tanpa ayah. Bagaimana mengetahui siapa manusia pertama yang hidup di dunia ini. Adanya hari akhir yang akan memperhitungkan manusia untuk dimasukkan ke surga atau neraka.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS. Al `Alaq:1-5)
            Ayat tersebut menuntut manusia untuk membaca, yaitu aktivitas yang dilakukan dengan indra dan akalnya. Namun ilmu dan kebenaran juga bisa diperoleh langsung dengan anugrah Allah langsung kepada manusia, sebagaimana pada para nabi atau wali Allah.
Seperti Nabi Ibrahim Alaihi sallam yang mencari Tuhannya. Ia melihat bintang dan berkata “Inilah Tuhanku” namun bintang itu terbenam dan ia berkata “Aku tidak suka kepada yang terbenam”. Ia melihat bulan yang terbit, namun bulan itu juga terbenam. Hingga melihat matahari yang lebih besar, namun matahari tersebut juga terbenam meninggalkannya, ia tidak dapat menerimanya dan berkata ”Sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang tersesat.” Kemudian Allah memberikannya petunjuk atau ilmu hingga sampai pada kesimpulan “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah temasuk orang-orang musyrik.”(QS.Al An`am:79)
            Maka Islam menetapkan sumber ketiga untuk manusia mencapai ilmu dan kebenaran yaitu melalui kabar yang benar (khabar shadiq).
Kabar Yang Benar
            Khabar shadiq atau kabar yang benar merupakan sumber ilmu yang bisa lebih tinggi posisi dan derajat kebenarannya dari sumber ilmu melalui panca indra dan akal.
            Kabar yang benar dapat berupa informasi, cerita, riwayat, pernyataan, ucapan dan lainnya, yang dapat diklasifikasikan berdasarkan nilai kebenaran dan otoritasnya.Para ulama ahli hadist dan ushul fiqih telah membuat metodologi yang ketat untuk mengklasifikasikan khabar shadiq berdasarkan nilai kebenarannya baik dari nara sumber, isi, dan cara penyampaiannya.
            Imam an Nasafi telah menjelaskan bahwa yang termasuk khabar shadiq ada dua al-khabar al-mutawatir dan al-khabar Rasul al-muayyad bil mu’jizah atau kabar dari Rasul yang disokong oleh mu’jizat, yaitu wahyu.
 Pertama, khabar mutawatir, yaitu informasi yang tidak diragukan lagi karena berasal dari banyak sumber yang tidak mungkin bersekongkol untuk berdusta, dan oleh karena itu merupakan sumber ilmu yang pasti kebenarannya.[4] Kabar mutawatir adalah kabar yang diriwatkan dari banyak sumber dan berdasarkan kepada data empiris. Lalu disampaikan dari satu generasi ke generasi yang lain. Yang mana akal kita menolak bahwa mereka bersekongkol untuk berdusta. Seperti satu tambah dua sama dengan tiga, bumi bentuknya bulat, Ka`bah letaknya di Mekkah dan lainnya yang meskipun sesorang tinggal di tempat yang berjauhan, agamanya berbeda,  antara di Indonesia dan Amerika, semua mengakui akan hal tersebut. Meskipun seseorang berpindah dari Amerika ke Indonesia, dari Islam ke Kristen, tidak akan merubah satu tambah dua menjadi tujuh, bumi menjadi persegi panjang, dan Ka`bah tempatnya adalah di Roma. Dalam Islam ilmu ini diterima sebagai ijma` atau kesepakatan bersama. Dan inilah kebenaran universal yang tetap menjaga dunia.
KH. Hasyim Asyari adalah seorang ulama yang kita kenal sebagai pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia. Dari mana kita tahu bahwa KH. Hasyim Asyari itu benar-benar ada atau wujud? Kita hanya mengetahuinya melalui kabar mutawatir atau yang diriwayatkan dari banyak orang, meskipun kita tidak pernah bisa membuktikannya secara empiris atau nyata dan bertemu langsung dengannya, kita bisa saja menganggapnya sebagai tokoh fiktif. Namun kabar tentang adanya KH. Hasyim Asyari sangat banyak dan sampai dari generasi ke generasi, sehingga akal bisa menerima kebenarannya bahwa mustahil mereka bersekongkol untuk berbohong.
Meski demikian tidak semua kabar dari orang banyak bisa serta merta dianggap mutawatir. Para ulama telah menetapkan sejumlah syarat, apakah sebuah khabar layak untuk disebut mutawatir atau tidak. Pertama para nara sumbernya harus betul-betul mengetahui apa yang mereka katakan, sampaikan atau laporkan. Jadi tidak boleh dan tidak cukup jika sekadar menduga-duga atau mereka-reka (ghayra mujazifin la zhannin). Kedua, mereka harus mengetahuinya secara pasti dalam arti pernah melihat, menyaksikan, mengalami atau mendengarnya secara langsung tanpa disertai ilusi, distrorsi dan semacamnya (al musyahadah wa s-sama` la ala sabil al-ghalath). Ketiga, jumlah nara sumbernya harus cukup banyak sehingga tidak mungkin suatu kekeliruan atau kesalahan akan dibiarkan atau lolos tanpa dikoreksi. [5]
Peran kabartidak bisa dihindari, meski yang mengaku rasional dan empirisme sejati sekalipun akan selalu menerima kabar sebagai ilmu dan kebenaran yang harus dia percayai. Sehingga yang dianggap sebagai dogma juga sebenarnya berlaku pada ilmu pengetahuan dan kenyataan. Misalnya seorang mahasiswa dikatakan oleh dosennya bahwa diameter rata-rata bulatan Bumi adalah 12.742 km, mahasiswa tersebut langsung menerima saja pernyataan tersebut, andaikan ia adalah seorang rasional tentu dia akan kritis dan mempertanyakannya, ia menerima saja bahwa diameter bulatan bumi sebesar itu dan tidak mungkin membuktikan secara empiris. Seorang profesor juga harus menerima begitu saja tanpa pembuktian pada penjelasan seorang pramugari ketika naik pesawat, bahwa ia sedang terbang menuju ke Surabaya, saat ini sedang dalam ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, dan dalam waktu 20 menit lagi akan sampai di Bandara. Padahal ia sendiri tidak pernah mengenal pramugari dan juga pilot yang membawanya, apakah benar ia seorang pilot, apakah benar ia akan membawanya ke Surabaya. Ia hanya percaya begitu saja. Maka profesor tersebut telah mendapatkan kebenaran ilmiah dari jalur kabar atau pemberitaan, tidak berdasar pada empirisme. Seorang anak juga tidak selalu mempertanyakan dan membuktikan pada orang tuanya, apakah benar bahwa ia adalah ibunya. Ia tidak melihat atau memikirkan secara langsung ketika ia dilahirkan bahwa ia benar adalah ibunya, ia hanya menerima dari perkataan orang-orang disekitarnya.
Kedua adalah al-khabar Rasul al-muayyad bil mu’jizahatau kabar dari Rasul yang diperkuat oleh mu’jizat, kabar ini adalah wahyu, yang dibawa melalui para nabi yang diutus untuk memberikan penerang dan petunjuk kebenaran. Al Qur`an dan hadist merupakan wahyu Allah, yang memiliki tingkatan tertinggi dari sumber ilmu dan kebenaran, mengalahkan panca indra dan akal, serta kabar lainnya. Sebab ia merupakan pesan utama dari Allah Sang Pencipta dan dibawa oleh manusia yang memiliki otoritas dan kemuliaan tinggi.
Para nabi merupakan manusia pilihan yang telah diakui kejujuran, keilmuan, kemampuan, dan diperkuat dengan adanya mukjizat kebenaran. Rasulullah Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan seorang nabi terakhir dan penyempurna dari ajaran para nabi sebelumnya, dan diutus untuk semua kaum.
Mukjizat terbesar yang dibawa oleh Rasulullah adalah Al Qur`an yang memuat berbagai kebenaran yang tidak bertentangan dan diakui hingga akhir zaman. Baik dari peristiwa, perjanjian, hukum, hingga ilmu pengetahuan, termuat dengan benar. Maka untuk mengidentifikasi kebenaran suatu agama dapat ditinjau dari dua hal ini, siapa yang menyampaikan dan apakah benar yang disampaikannya.
Benar adalah kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Penerimaan antara hati dan akal.Beberapa kriteria yang membuktikan kebenaran Islam.[6]
Pertama, ajaran yang rasional: Pencipta telah memberikan pertimbangan dan intelektual kepada manusia, maka kewajiban manusia untuk menggunakannya, agar dapat membedakan kebenaran dari kebohongan. Wahyu itu dari Allah, pasti rasional, dan dapat dirundingkan tanpa ada pikiran yang memihak. Adanya ganjaran pahala dan dosa, surga dan neraka, merupakan hal yang rasional sebagai bentuk keadilan Allah kepada manusia, jika tidak ada, maka manusia akan berbuat sesukanya, meskipun tidak dapat langsung diindra.
            Kedua, kesempurnaan: Sang Pencipta adalah sempurna, maka wahyu-Nya pasti sempurna dan akurat, bebas dari kesalahan, kelalaian, penambahan/interpolasi dan versi yang bermacam-macam, dan bebas dari kontradiksi dalam penyampaiannya. Memuat berbagai hal mendasar yang benar dan dapat dibuktikan, serta dijelaskan.
Ketiga, tidak ada cerita yang dibuat-buat atau takhayul: wahyu yang benar bebas dari cerita yang dibuat-­buat atau takhayul yang menurunkan martabat Sang Pencipta atau diri manusia. Semua cerita yang disebutkan merupakan kenyataan dan telah berlangsung.
Keempat, ilmiah:Sang Pencipta adalah Pencipta alam dan kehidupan, maka seluruh ilmu pengetahuan, wahyu yang benar pasti ilmiah dan dapat bertahan terhadap tantangan ilmu pengetahuan di setiap saat.Sebagaimana banyak yang telah disebutkan dalam Al Qur`an tentang proses tahapan lahirnya manusia, bumi yang berbentuk bulat dan berotasi pada garis edarnya, langit yang terdiri dari tujuh lapisan, dan lainnya, yang merupakan kebenaran yang baru dapat dibuktikan pada perkembangan sains dan teknologi abad 20.
Kelima, Ramalan atau perjanjian yang menjadi fakta: Pencipta kita lebih tahu masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang, maka ramalan-Nya dalam wahyu­-Nya dimasukkan sebagai ramalan.Seperti kabar tentang kemenangan pasukan Roma terhadap Persia, kejatuhan konstantinopel ke tangan ummat Islam, munculnya dajjal, Nabi Isa dan Imam Mahdi dan sangat banyak lainnya baik yang sudah atau akan terjadi.
Keenam, Tidak dapat ditiru manusia: wahyu yang benar adalah sempurna dan tidak dapat ditiru manusia. Wahyu Allah yang benar adalah keajaiban yang hidup, sebuah kitab yang membuka tantangan manusia untuk melihat dan membuktikan kepada diri mereka sendiri keautentikannya / keasliannya atau ketelitiannya.Bahkan Allah menantang manusia untuk membuat ayat satu semisalnya saja, dengan mengajak siapa saja.

"Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terangkepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. " (QS Fushshilat : 53)

Selain Allah telah menjamin kebenaran Al Qur`an dan menjaganya. Para ulama juga telah memiliki tradisi keilmuan yang sangat ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan untuk  menjaga keontetikan Al Qur`an maupun hadist.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr. 9)
Dalam ilmu hadist ada ilmu hadist Riwayah dan ilmu hadist Dirayah. Menurut Ibn al Akfani, ilmu riwayah adalah ilmu yang mencakup perkataan dan perbuatan Rasulullah, baik periwayatannya, pemeliharaannya maupun penulisan atau pembukuan lafazh-lafazhnya. Objek ilmu ini adalah bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain, dan memindah atau mendewankan. Sedangkan ilmu dirayah (musthalah) menurut Iman at Tirmidzi sebagai undang-undang atau kaidah-kaidah untuk mengetahui sanad (riwayatnya) dan matan (isinya), cara menerima dan meriwayatkannya, sifat-sifat perawinya, dan lainnya. Objek ilmu Dirayah adalah keadaan para perawi (yang meriwayatkan) dan marwinya. Keadaan para perawi menyangkut pribadinya seperti akhlak, tabiat, dan keadaan hafalannya serta persambungan dan terputusnya sanad. Sedangkan keadaan marwi adalah ditinjau dari sudut keshahihan (kuat), kedhaifan (lemah) dan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan matan hadist.[7]
Ilmu hadist ini memiliki peran yang sangat penting untuk mengklasifikasikan hadist.  Hadist dikatakan shahih apabila mata rantai transmisinya jelas dan tidak terputus hingga ke Rasulullah, melalui sumber-sumber yang terpercaya, tidak terkenal atau tertuduh sebagai pendusta, tidak banyak salahnya, tidak kurang teliti, tidak fasiq, tidak meragukan, tidak ahli bid`ah, tidak lemah ingatannya, tidak sering menyalahi sumber lain yang lebih otoritatif, bukan tidak terkenal. Jika syarat-syarat tersebut di atas kurang atau tidak terpenuhi maka khabar yang bersangkutan disebut hasan (apabila sumbernya tidak tertuduh berdusta) atau dha`if (apabila cacatnya cukup fatal), dan jika persyaratan itu semua tidak terpenuhi maka disebut maudhu (palsu). Adapula khabar-khabar non shahih yang diberikan istilah khusus, seperti marfu`(perkataan sahabat yang riwayatnya diangkat sampai kepada Rasulullah Saw), mawquf (perkataan sahabat yang riwayatnya terhenti, tidak sampai pada Rasulullah Saw), mursal, mudallas, muallaq.[8]
Berkaitan dari jumlah narasumbernya salah satunya contohnya adanyakhabar al wahid atau ahad,yaitu kabar yang diriwayatkan dari satu orang. Imam Muhammad ibn Ali bin Muhammad as Syawkani (w.1225 H/ 1839 M) bahwa kabar wahid baru bisa diterima jika sumbernya memenuhi lima syarat. Pertama, sumbernya harus seorang mukallaf, yaitu orang yang telah kena kewajiban melaksanakan perintah agama dan bisa dipertanggung jawabkan, ucapan anak-anak dibawah umur atau omongan orang gila yang ngawur dan semacamnya tidak diterima. Kedua, sumbernya harus beragama Islam. Konsekuensinya tidak diterima khabar, pernyataan atau pendapat orang kafir (mengenai ajaran Islam), sehingga riwayat-riwayat Isra`iliyyat disensor oleh para ulama.Ketiga, sang narasumber harus memiliki `adalah, yaitu integritas moral pribadi yang menunjukkan ketakwaan dan kewibawaan diri (muru`ah), sehingga timbul kepercayaan orang lain kepadanya, termasuk dalam hal ini meninggalkan dosa-dosa besar dan menjauhi dosa-dosa kecil. Keempat, si narasumber diharuskan memiliki kecermatan dan ketelitian, tidak sembrono dan asal jadi. Kelima, narasumber harus jujur dan terus terang, tidak menyembunyikan sumber rujukannya (ghayr mudallis) dengan cara apapun, sengaja maupun tidak sengaja.[9]
Berdasarkan derajat validitas atau kebenaran isinya juga telah dibuat kategori qath`i  (pasti) dan zhanni (kemungkinan), kemudian dibagi lagi berdasarkan tsubut (kebenaran sumbernya) dan dalalah (makna, makna, signifikansi dan implikasinya). Jadi banyak sekali yang menjadi sistematika dan ranah kajian untuk menjaga kebenaran wahyu, yang tidak terdapat pada tradisi keilmuan agama lain, sehinggamenjadi celah terjadinyaperubahan dan pemalsuan pada ajaran mereka.
Abdullah ibn al Mubarak (w.181 H/797 M) mengatakan “Tanpa isnad, niscaya setiap orang akan berkata tentang apa saja sesuka hatinya.” Ada juga yang mengatakan bahwa ilmu sanad adalah bagian dari agama. Demikian juga para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi`in, Abu Hurairah r.a, Ibn Abbas r.a, Zayd ibn Aslam, Ibn Sirin, Hasan al Basri mewanti-wanti “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian berguru dalam soal agama”[10] Hal.216]

Kebenaran Antara Islam dan Kristen
Dalam Islam kebenaran pokok (aqidah) atau prinsip (ushul) itu sudah mutlak, dan tidak ada perbedaan. Ukurannya adalah antara haqq dan batil, yang benar atau yang salah,  iman atau kafir. Sedangkan perbedaan-perbedaan pendapat antar empat mazdhab fiqih, merupakan kebenaran relatif yang telah diakui dan diterima karena otoritas dan metodologinya dalam menggali dan menentukan hukum Islam melalui sumber-sumber hukum utama, yang selanjutnya menjadi disiplin umat Muslim dalam melaksanakannya. Hal ini merupakan perkara cabang (furu), yang ukurannya adalah shawwab dan khatta, yang memungkinkan salah atau benar. Ukuran salahnya masih dalam ranah yang masih berdasar dan wajar, atau memang memungkinkan berbeda karena makna, konteks dan redaksi yang beragam menjadi kemudahan dan saling melengkapi. Yang hal ini tidak mengeluarkannnya dari Islam.  Jika benar mendapatkan dua pahala dan salah mendapatkan satu pahala.
Kebenaran pokok dalam Islam telah jelas dan harus dipertegas. Antara keimanan dan kekufuran, kebenaran dan kebatilan, kelurusan dan kesesatan, dapat diindikasi dan diidentifikasikan. Manusia tidak bisa berdiri pada posisi antara keyakinan dan keraguan, antara kebenaran dan kebatilan, sebab dia akan dihadapkan pada dua pertentangan yang akan menyakitkan hati dan dirinya, dan menjadikannya seorang munafik.
Seseorang harus memiliki pendirian dan posisi antara keimanan atau kekufuran.Jika ia seorang Muslim tidak boleh mengatakan “Saya yakin bahwa Islam yang benar, tapi saya tidak bisa menyalahkan pendapat  lain yang berbeda”. Pernyataan demikian sudah dapat melunturkan keimanannya. Sebab konsekuensi dan kesempurnaan dari keimanan adalah kufur atau mengingkari terhadap thogut atau yang bertentangan dengannya.
“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (Laa ilaaha ilallaah)” (QS. Al Baqarah:256).
Jika benar semua agama itu adalah relatif sehingga menyamakan semua agama dan  menganggapnya menuju pada Tuhan yang sama. Lalu mengapa pada satu sisi Allah mengharamkan babi dan di sisi lain dihalalkan-Nya? Tuhan adalah satu namun di sisi lain Tuhan itu dikatakan tiga? Nabi Isa Alaihi sallam adalah utusan Allah dan ia diangkat ke langit, tapi disisi lain ia dikatakan Tuhan, anak Tuhan dan mati di tiang salib? Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam merupakan nabi terakhir, namun ada yang mengatakan ada nabi setelahnya? Maka seseorang tidak mungkin meyakini dua hal yang saling bertolak belakang, dan pasti ada kebenaran mutlak diantara dua pernyataan yang berseberangan tersebut. Sebagai konsekuensinya ketika seseorang Muslim meyakini apa yang telah diingkari oleh Allahsubhanahu wa ta`ala akan dapat menyebabkan kekufuran.
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maaidah : 72)
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan:"Bahwanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih."(QS.Al-Maa-idah : 73)
Meskipun setiap agama memiliki standar kebenarannya masing-masing, namun titik kebenaran sebenarnya juga bisa didapatkan. Kebenaran-kebenaran yang dianggap subjektif dari setiap agama, ketika didudukkan pada satu tempat ia dapat menjadi kebenaran objektif ketika ia disepakati secara nyata dan bersama. Sehingga pada puncaknya kita akan dapat mengetahui kebenaran diantara salah satunya. Konsep utama dalam menilainya yaitu ”kejujuran” bukan subjektif-objektif.
Dalam pandangan Islam, dan jika ditelusuri dalam sejarah dan kitab yang menjadi pengikut para Nabi dan Rasul sendiri, telah disebutkan adanya keseragaman dari wahyu yang dibawa oleh Rasulullah MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallamdan nabi Isa Alahi sallam yang dalam Kristen dikenal dengan Yesus, demikian juga nabi-nabi dan Rasul sebelumnya.
Allah telah menurunkan petunjuk kebenaran yang tidak mungkin saling bertentangan, sebagaimana esensi ajaran yang dibawa oleh para nabi, yaitu untuk mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya pada suatu apapun, tidak mungkin seorang nabi yang telah menjadi pilihan berdusta dan mengubah-ubah ajaran dari Tuhannya.
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)".(QS. Al-Shaff: 6)
”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al-Baqarah ayat 147)
Islam telah memberikan dengan jelas bahwa Nabi Isa adalah seorang utusan-Nya dan mengakui tentang penyimpangan yang dilakukan oleh pengikutnya pada waktu selanjutnya.Maka perlu kita buktikan antara kebenaran dari keduanya, dari aspek mendasaryaitu pada kitabyang menjadi pedoman ajarannya.
Pertama, Yesus mengajarkan Tauhid; Maka berkatalah Yesus kepadanya “Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau harus berbakti”(Matius 4:10) Jawab Yesus “Hukum yang terutama ialah, dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa/satu (Markus 12:29). Kedua, Yesus mengaku hanya utusan Allah;”Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri, aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku”(Yohanes 5:30), “Inilah hidup yang kekal itu, bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”(Yohanes 17:3), “Jawab Yesus kepada mereka; ajaranku tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang mengutus aku..”(Yohanes 7:16)
Nabi Isa Alahi sallam adalah seorang Rasul utusan Allah, sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengaku sebagai Tuhan, tidak pernah membuat nama agama Nasrani atau Kristen. Iamelanjutkan misi yang sama yaitutauhid untuk meng-esa-kan Allah saja, tidak mengajarkan manusia untuk menyembahnya. Hal ini juga yang telah banyak diakui bahwa Kristen telah banyak mengalami perkembangan dan perubahan, serta pertentangan. Paulus lah yang pertama kali mendirikan agama kristen, seorang yang mengaku sebagai Rasul. Padahal dia sendiri selama hidupnya tidak pernah bertemu Yesus, bahkan namanya tidak tercantum dalam daftar nama murid-murid yang disebutkan Yesus dalam kitab Injil.
Pada masanya ia telah banyak melakukan pemalsuaan dan pemasukan berbagai doktrin-doktrin baru sebagai penubuh agama Kristen, yang selanjutnya juga diresmikan dan dijadikan agama resmi Roma dengan berbagai penyesuaian dan perkembangannya pada Konsili Nicea 325 Masehi oleh raja Konstantine.
Tidak heran kemudian banyak kontradiksi terjadi antar ayat di dalam al kitab, serta pertentangan-pertentangan antara ajaran nabi Isa dan Paulus sesudahnya. Dan justru saat ini ajaran Paulus lah yang lebih diikuti dan diamalkan.
Pertama, Yesus bukan Tuhan dan tidak sama dengan Tuhan. Tuhan lebih besar dari Yesus;Kata Yesus “Sekiranya kamu mengasihi aku, kamu akan bersukacita karena aku pergi kepada Bapa (Tuhan), sebab Bapa (Tuhan), lebih besar daripada aku..(Yohanes 14:28). Yesus bersyukur kepada Tuhan; Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepadaMu, Tuhan langit dan bumi.(Matius 11:25). Yesus berteriak memanggil Tuhan; Kira-kira jam tiga, berserulah Yesus dengan suara nyaring “Eli, eli, lama sabakhtani?” (Allah-ku, Allah-ku, mengapa engkau meninggalkan aku? (Matius 27:46). Namun Paulus membuat ayat baru bahwa Yesus adalah Tuhan, yang ketika itu dikirim kepada jemaatnya yang ada di daerah Korintus dan  di Roma “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu bapa, yang daripadanya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup.”( 1 Korintus 8:6), “Sebab jika kamu mengakui dengan mulutmu bahwa Yesus itu Tuhan, dan percaya dengan hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”(Roma 10:9)
Kedua, Yesus melarang makan babi. “Juga babi, karena memang berkuku belah, tetapi tidak bermamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang itu janganlah kamu makan dan jangan pula kamu terkena bangkainya”(Ulangan 14:8). Namun Paulus membolehkan makan babi, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatunya halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh sesuatu apapun”(1 Korintus 6:12).
Ketiga, Yesus melarang minuman keras. “Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram”(Hakim-hakim 13:4). Sedangkan Paulus membolehkan minuman keras, “Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh roh kudus”(Roma 14:17).
Keempat, Yesus disunat atau dikhitan. “Dan ketika genap delapan hari, dan ia harus disunnatkan, ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut malaikat sebelum ia dikandung ibunya”(Lukas 2:21). Paulus melarang untuk sunat, “Sesungguhnya aku, Paulus berkata kepadamu; jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”(Galatia 5:2)
Selain beberapa hal tersebut, masih banyak lagi perkembangan yang terjadi dalam doktrin Kristen, khususnya setelah terjadinya sekulerisasi pada tubuh Kristen, setelah persaingan sengit antara gereja dan ilmuan, antara doktrin agama dan realitas kehidupan serta ilmu pengetahuan di Barat, yang saling berlawanan dan tidak berkesesuaian.
Diperkirakan antara tahun 1481 hingga 1901, korban pembantaian Dewan Inquisisi mencapai 300 ribu jiwa termasuk 30 ribu jiwa dibakar hidup-hidup, yang banyak diantaranya adalah para ilmuan, seperti sarjana fisika terkemuka Bruno. Ia dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Selain Bruno, Galileo Galilei juga harus menjalani hukuman sampai mati di penjara karena pendapatnya yang menyatakan bahwa bumi beredar mengitari matahari, gereja juga menolak teori heliosentris yang menyatakan bahwa bumi itu berbentuk bulat dan berpendapat bahwa bumi itu datar. Ketika ilmuan Islam ratusan tahun sebelumnya mengidentifikasi bahwa penyakit itu disebabkan adanya mahluk kecil yang mempengaruhinya, doktrin Kristen menganggapnya bahwa penyakit disebabkan dari roh jahat, sehingga mereka menolak dan tidak mengakui adanya ilmu pengobatan, dan banyak lagi lainnya.
Hal ini pula yang selanjutnya yang mengakibatkan sumber kebenaran dan ilmu pengetahuan di Barat tidak memasukkan wahyu sebagai sumber ilmu dan standar kebenaran yang tetap dan universal. Terus menduga-duga dan tidak menemukan kebenaran, namun tidak menduga bahwa Islam merupakan sumber kebenaran.

Kebenaran Hidup
Maka pemahaman relativisme yang menganggap bahwa tidak ada kebenaran, merupakan tidak mungkin, jika diaplikasikan dalam kehidupan nyata, ia akan menjadikan kehidupan ini kacau dan tidak ada lagi kebenaran yang disepakati secara bersama. Bayangkan jika banyak yang mengakui diri sebagai presiden dan ia dianggap mungkin saja ia benar, mereka akan berebut mengurusi pemerintahan dengan sekehendaknya. Atau dalam melakukan transaksi jual beli tidak ada nilai yang mutlak atau kisarannya, seseorang akan mengambil dan membayar dengan sesukanya.
Terlebih utama dalam masalah agama, tidak bisa dikatakan semua agama relatif atau membenarkan semua agama, seolah sudah mempelajari semua agama, padahal jumlah agama ada ribuan di dunia. Kemudian latah dan tidak sadar ikut-ikutan, mengatakan semua agama benar dan semua agama mengajarkan kebaikan.
Dampak orang yang selalu dalam keraguannya akan membuat kesusahan, keresahan, kecemasan, kesempitan, sehingga tidak ada lagi yang ia percayai dan yakini, hidupnya seperti orang gila, tidak bertujuan dan tidak jelas akan kemana.
Karena kebenaran mendasar ada dalam agama, maka seharusnya meyakininya. Iman itu adalah keyakinan, keyakinan itu akan mengantarkan pada kebahagiaan. Tidak ada manusia yang akan bahagia di dunia kalau tidak yakin. Sebab bahagia itu bukan pada pemenuhan fisik, orang yang bahagia adalah orang yang yakin pada sesuatu dan hidup dalam keyakinannya, hidup dalam tujuan yang telah diyakininya, dan yakin terhadap tujuan hidupnya.
Dan semua kebenaran itu hanya ada di dalam Islam, berdasarkan segala bukti dan kesempurnaannya. Demikian yang telah berlangsung dan akan dijanjikan-Nya. Tinggal sekarang seseorang membuka dan mempelajarinya. Sebab tidak sama orang yang bangun dan tidur, yang duduk dan berdiri, yang diam atau mempelajarinya, ia mampu untuk dibedakan dan mendapat kebenarannya. (Galih)
Sumber:
[1] Dr. Syamsuddin Arif, Filsafat Ilmu:Perspektif Islam dan Barat (GIP:Jakarta,2013) Hal.112
[2] Dr. Syamsuddin Arif, Filsafat Ilmu:Perspektif Islam dan Barat (GIP:Jakarta,2013) Hal.114
[3] Dr. Dinar Dewi Kania, Filsafat Ilmu:Perspektif Islam dan Barat (GIP:Jakarta,2013) Hal.107
[4] Dr.Syamsudiin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (GIP:Jakarta,2008) Hal.208
[5] Ibid, Hal.209
[6] Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti kebenaran Al Qur`an, Yogyakarta: Tajidu Press, 2003
.[7]  Dr. Dinar Dewi Kania, Filsafat Ilmu:Perspektif Islam dan Barat (GIP:Jakarta,2013) Hal.101
[8] Dr.Syamsudiin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (GIP:Jakarta,2008)  hal.212]
[9] Ibid, Hal.210
[10] Ibid, Hal.216
[Dan berbagai sumber lainnya]


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Walgreens Printable Coupons