Feb 4, 2016

Rahma el Yunusiah, Nisaa ut-Tarbiyah



Sosok dan pemikiran wanita ini memberikan inspirasi bagi majunya pendidikan Islam di Indonesia, bahkan dunia.  Syaikh Abdurrahman Taj, Rektor Universitas al Azhar Kairo Mesir, mengundangnya pada tahun 1957 dan memberikan anugerah berupa gelar Syaikhah dari Universitas al Azhar. Berkat jasa dan keteladannya dalam mendirikan sekolah Islam dan memajukan pendidikan kaum Muslimah di Indonesia, Universitas tertua di dunia ini tidak segan dan memberikan penghargaan atas sumbangsih besarnya.
Sebelumnya pada tahun 1955, Syaikh Abdurrahman telah  mengadakan kunjungan ke Indonesia, khususnya ke sekolah yang didirikan oleh wanita ini di Padang Panjang, ia tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan kepada putri-putri Islam di Indonesia. Ia banyak menimba pengalaman dari sekolah ini, sedangkan saat itu al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus bagi kaum perempuan. Akhirnya tak lama setelah kunjungannya, Universitas Al Azhar membuka pendidikan khusus perempuan yang bernama kulliyyât al-banât.

Gelar baru yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Gelar yang setara dengan gelar Syeikh Mahmoud Syalthout, salah seorang mantan Rektor al-Azhar. Syaikhah Rahma el Yunusiah adalah nama yang kini disandangnya. Ia dikenal sebagai pendiri perguruan untuk wanita Islam pertama di Indonesia yakni Madrasah Diniyah Puteri (Madrasah Diniyah li al-Banat) di Padang Panjang.[1]
 
Rahma el Yunusiah (1900-1969) merupakan seorang wanita yang terlahir di Padang, Sumatera Barat. Dibesarkan dalam silsilah keluarga yang baik dan sangat menjunjung tinggi pendidikan agama. Ia belajar Islam secara langsung kepada ayahnya, kakaknya dan ulama-ulama di Sumatera, salah satunya ia rutin mengaji di Surau Jembatan Besi, kepada Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang-Panjang), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasyidi, dan Syaikh Daud Rasyidi.

Jilbab panjang nan lebar melebihi dada selalu dikenakan Rahma, padahal penampilan demikian ketika itu mungkin masih tampak asing dan belum banyak dikenal, istri tokoh-tokoh Islam ketika itu bahkan terlihat belum menggunakan jilbab yang besar dan sempurna, namun sudah merupakan bentuk yang maju dan baik pada kondisi saat itu.

“Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan dituntut dari diri saya”, kata Rahmah El Yunusiyah suatu hari bertekad, menunjukkan didikan dan penanaman agama yang kuat pada dirinya.

Rahmah nampak istimewa dan sempurna menginjak waktu mudanya. Cita-cita tingginya untuk memajukan keilmuan kaumnya dan mengeluarkan mereka dari kebodohan begitu bergelora. Bagi Rahma, perempuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan, utamanya dalam rumah tangga. Karena rumah tangga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara. Tentulah ia tidak mau, kaumnya yang mempunyai peran penting dalam tiang negara dan pendidikan anak-anaknya tertinggal dari laki-laki.

Sebagaimana tulis Buya Hamka “Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka rusak, rusak pulalah negara. Mereka adalah tiang, dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun jika rumah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk”

Rahmah tampak gelisah ketika melihat perempuan di daerahnya belum mendapatkan pendidikan yang sama seperti yang didapatkan laki-laki, terutama pendidikan agama. Padahal Islam tidak pernah membatasi perempuan untuk menuntut ilmu, dan kewajiban menuntut ilmu dibebankan kepada setiap laki-laki dan perempuan. Ia merasa resah mendapati kaumnya masih terjerat dengan kebodohan, sedangkan sistem pendidikan yang berlaku di Padang Panjang kurang memberikan akses pendidikan yang besar bagi kaum perempuan, di bawah adat dan tekanan kolonialisasi Barat yang menguasai Nusantara saat itu. Rahmah kemudian sadar dan tergugah bahwa hanya dengan pendidikan lah, ia bisa memajukan kaumnya dan bisa mengeluarkan mereka dari kejumudan dan ketertinggalan.

Pada tanggal 01 November 1923, bersamaan dengan usianya yang hampir masuk ke 23 tahun, akhirnya Rahmah dengan dukungan dari kakaknya, Zaenuddin Labay, seorang tokoh pembaru pendidikan Islam di Sumatera, beserta teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyyah School) memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus Perempuan yang dinamai Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat yang bertempat di Masjid Pasar Usang.

Saat itu, muridnya masih berjumlah 71 orang dan terdiri dari ibu-ibu muda, termasuk putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Mata pelajaran yang diajarkan di sekolahnya adalah fiqih, tafsir, tauhid, hikmah tasyri, adab, nahwu, sharaf, ilmu bumi, ushul fiqih, sejarah Islam, menulis arab, keputrian, pendidikan rumah tangga, bahasa Inggris, bahasa Belanda dan sebagainya.

“Diniyah School Puteri ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya daripada kaum Lelaki…, Inilah yang menyebabkan terjauhnya penerangan perempuan Islam daripada penerangan agamanya sehingga menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan” tutur Rahma.

Melalui tekad yang kuat dan kokoh, Rahma beserta teman-temannya mulai merintis dan membagun sekolah ini. Sebuah jalan mulia yang terpatri dalam jiwa dan tujuan besar mereka dalam mencerdaskan kaum Muslimah dan mencari keridhoan-Nya. 

Tujuan mulia nan besar dari pendidikan Diniyah puteri ini adalah,
“Membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta betanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian Allah subhanahu wata’ala”

Rahmah sendiri merupakan pribadi yang giat mencari ilmu. Selain belajar agama kepada sejumlah ulama, ia juga mempelajari dan menekuni berbagai ketrampilan yang mestinya dimiliki oleh kaum perempuan. Memasak, menenun, dan menjahit merupakan keterampilan yang ia miliki. Ia juga berupaya menularkan ketrampilan ini kepada kaum perempuan yang ada di sekitarnya. Bahkan Rahmah kemudian mendirikan sebuah sekolah kejuruan yakni, sekolah tenun pada tahun 1936. Untuk memenuhi tenaga pengajar perempuan, Rahmah mendirikan sebuah sekolah guru untuk perempuan pada tahun 1937.

Masa hidup Rahmah El-Yunusiah dijalani dalam perjuangannya mengentaskan kaum perempuan. Ia merupakan tokoh besar yang menggagas pendidikan untuk kaum perempuan, sehingga perhatiannya terfokus pada sekolah khusus perempuan yang didirikannya. Ia menyadari bahwa peran perempuan sangat besar dalam melahirkan dan mendidik generasi muda Islam, yang kan membawa kemerdekaan dan kepemimpinan pada setiap dekade nya. 

Syaikhah Rahmah el Yunuisiah, dijuluki sebagai R.A Kartini gerakan Islam atau Kartini perguruan Islam oleh masyarakat di Sumatera. Meski demikian, Prof. Dr. Mansur Surya Negara, Pakar Sejarah Islam Indonesia,  tetap mengomentari secara adil bahwa, Rahmah el Yunusiah jauh lebih maju dan memiliki kelebihan dari R.A Kartini (1879-1296). Selain sebagai tokoh pendidikan Islam, yang gagasannya terwujud dalam pendidikan Diniyah putri, lembaga pendidikan ini juga berkembang,  membentuk perguruan tinggi dan telah meluluskan ribuan Muslimah yang hebat. Ia juga dikenal sebagai pelopor terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ADI (Anggota Daerah Ibu) hingga menjadi TNI Batalyon Merapi. Rahma aktif dalam menentang berbagai kolonialisasi yang terjadi pada masanya, seperti menuntut dan menentang pengerahan kaum perempuan Indonesia terutama di Sumatera Tengah sebagai jugun ianfu (perempuan penghibur) tentara Jepang, yang akhirnya berhasil mereka lakukan. Karena pembelaannya terhadap Islam dan jiwa ksatriaan yang dimilikinya, pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan menyebutnya sebagai Bundo Kanduang (Ibu Kandung) dari barisan perjuangan.

Rahmah El Yunusiyah juga pernah menjadi anggota pergurus Serikat Kaum Ibu Sumatra (GKIS) Padang Panjang, organisasi yang itu berjuang menegakkan harkat kaum wanita dengan menerbitkan majalah bulanan. Aktivitasnya yang lain adalah mendirikan Khuttub Khannah ( taman bacaan) untuk masyarakat.

Rahmah akhirnya wafat pada usianya yang hampir menginjak 69 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Idul Adha, tanggal 26 Februari 1969. Banyak pelajar besar dan berharga yang sampai saat ini bisa kita dapatkan dari beliau, usaha kerasnya dalam memuliakan dan mencerdaskan kaum perempuan, dengan keteladanan menjadi seorang pendidik dan pejuang Islam serta bangsa, dibalik identitasnya yang juga merupakan seorang ibu dan wanita. Kini oleh bangsa Indonesia ia dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.(Bambang Galih S)


[1] Susiyanto

Jan 25, 2016

Kerinduan Orang Berakal




Orang yang berakal hanyalah merindui 3 perkara:
Pertama, menyediakan bekal untuk pulang
Kedua, mencari kelezatan buat jiwa
Ketiga, Menyelidiki arti hidup
(Buya Hamka, Falsafah Hidup, hal.45 Jakarta:1984)
Setiap manusia memiliki akal dan setiap manusia yang berakal selalu akan memiliki kesempatan untuk terdiam dan merengutkan dirinya, berpikir dengan akalnya, bertanya pada ilmunya, berkata dalam hatinya, terhadap segala sesuatu yang telah, sedang atau akan diperbuatnya.
Kerinduan orang berakal berada pada tiga hal tersebut. Menurut pemahaman penulis –sebab dalam buku tersebut tidak diberikan penjelasan, mengenai 3 perkara tersebut-, tiga perkara ini terlebih dapat terjadi dalam perjalanan atau perantauan seorang berakal, dalam pengembaraaannya mencari ilmu, mencari sesuatu yang sedang ingin disiapkan dan diuasahakannya dengan sungguh untuk kampung hidupnya. Hal ini khususnya banyak terjadi pada masa peralihan dari tingkat pendidikan SMA ke Perguruan Tinggi. Dari langkahnya di sebuah kampung atau desa, ke pusat kota yang menawarkan banyak sudut pandang yang berbeda.
Namun dalam keadaan sistem pendidikan di perguruan tinggi yang sedang berlangsung saat ini, serta pergaulan hidup yang bermewahan dan bebas tak berbatas di kampus kehidupannya yang baru, promosi dan gelombang pemikiran sekuler-liberal lebih mendominasi dan mempengaruhi. Maka penting bagi seorang penuntut ilmu, pemburu cita, mewaspadai berbagai jalur yang justru dapat menghempaskannya. Meskipun pemikiran dan gaya hidup sekuler-liberal ini dikemas dalam wadah yang bagus dan menawan, namun sebenarnya parsial dan secara perlahan menghancurkan.
Maka Buya Hamka, juga menuliskan, satu paragraf di atas tulisan tersebut, sebuah cara dan kebiasaan –yang menurut pemahaman penulis- dapat dilakukan untuk dapat menemukan 3 perkara tersebut dengan benar-. Yaitu meluangkan dan mempertanyakan pada diri, sesuai dengan empat tingkatan tersebut, kemudian berdoa dan mencari, semoga Allah memberikan 3 perkara tersebut pada kedudukannya yang benar,  pada jalan yang lurus, yaitu jalan yang Ia ridhoi. Wallahu `alam bishawab
Empat saat yang selalu diawasi oleh orang yang berakal. Biar lengah dia dari pada yang lain, tetapi tidak lalai dia menjaga yang empat saat itu
1.      Saat untuk menyembahkan hajatnya kepada Tuhannya.
2.      Saat untuk menilik dirinya
3.      Saat untuk membukakan rahasia dirinya kepada sahabatnya yang setia, menyatakan aib-aib dan celanya supaya dapat ditegur dan ditunjukkan oleh teman setia itu terus terang.
4.      Saat dia bersunyi-sunyi diri, duduk bersoal jawab dengan dirinya, menanyakan mana yang halal dan mana yang indah, mana yang jahat dan mana yang indah.

Jan 21, 2016

Wanita Sholehah



“Kriteria Calon istri idaman seorang hamba Allah, Bambang Galih Setiawan:
1.      Seorang muslimah yang berhijab sempurna dan berakhlak baik
2.      Bersedia dan siap menikah dengan saya, mengarungi bahtera kehidupan pada jalan cinta para pejuang
3.      Bersedia dan siap menjadi seorang istri yang shalehah, yaitu taat kepada suami berdasarkan syariat dan jalan hidup Islam
4.      Menyayangi dan mencintai ibu saya sebagaimana mencintai ibu atau keluarganya sendiri.
5.      Bersedia dan siap menjadi seorang ibu yang baik, mendidik anak dan keluarga  menjadi manusia bertaqwa, beradab dan cerdas. (ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anak)
6.      Bersedia dan siap untuk terus belajar bersama, dan melanjutkan studi hingga jenjang tertinggi
7.      Bersedia dan siap untuk terus menghafal Al Qur`an bersama saya, menjadi seorang hafidz dan hafidzah
8.      Bersedia dan siap menjadi pakar di bidang keilmuan yang menjadi keahliannya
9.      Bersedia untuk mengajarkan Al Qur`an dan bidang ilmu bermanfaat yang menjadi keahliannya, khususnya bagi kaum wanita
10.  Bersedia dan siap menjadi seorang penulis, menulis dari pengalaman dan keilmuannya untuk memberi manfaat lebih besar pada umat
11.  Bersedia dan siap mewakafkan diri, usaha dan harta yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin.
In sya Allah beberapa kriteria dan target ini yang saya niat dan rencanakan bersama seorang pendamping hidup saya kelak, yang kan menyempurnakan dan melengkapi langkah pada jalan kehidupan dan cinta para pejuang..Semoga Allah Swt mengizinkan dan memberi kemudahan. Segala sesuatu yang akan meningkatkan kebaikannya pada kriteria ini, terbuka untuk dikoreksi dan ditambahi. Keyakinan saya sebagaimana pengalaman dan pelajaran dari orang-orang dekat yang shalih serta sejarah generasi terbaik, bahwa siapa saja yang hidup dan berbuat untuk agama-Nya, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya (QS. Muhammad:7), serta memberikan jalan keluar dan rizki dengan berbagai bentuknya dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq:2-3). Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr, cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami,  sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami".

Nov 8, 2015

Penanaman Ideologi Melalui Sejarah



“Tokoh-tokoh sekuler diangkat secara dominan dalam sejarah, seolah mereka pemeran utama dalam berdirinya Indonesia. Hal tersebut kemudian menjadi legitimasi, bahwa sekularisasi yang saat ini terjadi, merupakan kesepakatan yang telah dimulai oleh para pendiri negeri” ungkap Tiar Anwar Bahtiar, di hadapan sekitar 35 peserta.
Workshop “Perspektif Islam dalam Pengajaran Sejarah” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) dan Ma`had `Aly Imam al Ghazally (MAIG) Surakarta, menghadirkan Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M. Hum, Penasehat Jejak Islam untuk Bangsa dan Peneliti INSISTS Jakarta, pada Sabtu 7 November 2015 di Aula Ma`had `Aly Imam al Ghazally, Surakarta, Jawa Tengah.
Menurut Tiar, ada tiga permasalahan yang terjadi dalam penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia, yang bagi beliau tidak bebas nilai dan melayangkan cara pandang sejarawan serta kepentingan politik pada masa tersebut. Pertama sekularisasi, yaitu sejarah hanya dianggap sebagai hasil dari perbuatan dan pengalaman manusia yang tidak melibatkan Tuhan di dalamnya. Kedua nativisasi, yaitu mendefinisikan kembali akar sejarah Indonesia pada kebudayaan lama (primitif) yang berdasarkan animisme-dinamisme. Ketiga deislamisasi, yaitu menghilangkan peran Islam dalam sejarah Indonesia.
Beliau contohkan misalnya, bagaimana nativisasi dan deislamisasi terjadi dalam buku materi sejarah kelas IX yang banyak digunakan di sekolah-sekolah, menyebutkan bahwa Majapahit yang berideologi Hindu-Budha, adalah yang pertama kali menyatukan Nusantara dan merupakan jiwa bangsa Indonesia, sedangkan keruntuhan Majapahit dan perpecahan yang selanjutnya terjadi, disebabkan oleh serangan kerajaan Demak, Gresik dan Tuban yang menganut agama Islam.
Hal ini menurutnya merupakan kebohongan dan ketidak adilan yang ditanamkan dalam sejarah Indonesia, seperti rekayasa asal-usul manusia, yang sebenarnya tidak ilmiah dan lebih karena pesanan ideologi.
“Banyak sekali hal-hal yang tidak ilmiah dalam sejarah, lebih banyak karena ideologi. Ideologi apapun selalu diperkuat dengan sejarah, dan sejarah memperkuat ideologi” jelasnya.
Peran Islam yang sangat kuat dalam membentuk sejarah Indonesia pun, akhirnya dimentahkan dan dicurigai sebagai kepentingan yang memperpecah belah. Hal ini memberikan tanda akan antipati nya terhadap Islam.
“Orang Indonesia anti terhadap Islam yang dianggap dari Arab, tapi mereka suka dan menerima dengan sejarah yang dibuat oleh orang-orang Eropa dan Kristen” tambah Tiar, doktor jurusan sejarah, alumni Universitas Indonesia.
Maka sangat penting menurut Tiar Anwar Bachtiar, untuk melakukan Islamisasi dalam pengajaran sejarah, sebab sejarah merupakan konsep pemikiran yang berkaitan dengan ideologi, dan ideologi yang saat ini merasuki materi dan pengajaran sejarah harus digantikan dengan ideologi yang benar, yaitu Islam.  Pertama, yaitu menetapkan tujuan-tujuan operasional pendidikan dan pengajaran sejarah dalam kerangka kepentingan pendidikan Islam. Kedua, membuat narasi bahan ajar sejarah yang disesuaikan dengan Islamic Worldview. Ketiga menyiapkan guru-guru sejarah yang memiliki visi Islam dan memahami ajaran Islam dengan baik. (Laporan/Galih)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Walgreens Printable Coupons